RIVALITAS DIPLOMASI BUDAYA DIGITAL KOREA SELATAN DAN JEPANG MELALUI WEBTOON DAN MANGA DIGITAL DALAM MENARGETKAN PASAR INDONESIA (2020–2025)

RIKA , NURLAILA DAMAYANTI (2026) RIVALITAS DIPLOMASI BUDAYA DIGITAL KOREA SELATAN DAN JEPANG MELALUI WEBTOON DAN MANGA DIGITAL DALAM MENARGETKAN PASAR INDONESIA (2020–2025). FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK, UNIVERSITAS LAMPUNG.

[img]
Preview
Text
1. ABSTRAK.pdf

Download (209kB) | Preview
[img] Text
2. SKRIPSI FULL.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (1MB) | Request a copy
[img]
Preview
Text
3. SKRIPSI TANPA BAB IV.pdf

Download (979kB) | Preview

Abstract

Webtoon dan Manga Digital merupakan produk budaya digital yang kini menjadi instrumen utama diplomasi budaya Korea Selatan dan Jepang dalam memperluas pengaruhnya di pasar global. Keduanya telah menjangkau jutaan pembaca di berbagai negara melalui platform daring, termasuk Indonesia sebagai pasar digital terbesar di Asia Tenggara. Namun, diplomasi budaya digital yang seharusnya menjadi mekanisme kerja sama kreatif antarnegara justru berkembang menjadi arena kompetisi yang semakin intens. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis rivalitas diplomasi budaya digital Korea Selatan dan Jepang dalam menargetkan pasar Indonesia pada periode 2020–2025, serta dampaknya terhadap industri kreatif digital nasional. Penelitian ini menggunakan konsep Soft Power oleh Joseph Nye dan Diplomasi Budaya Digital sebagai alat analisis. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif-komparatif dengan teknik analisis data sekunder yang berasal dari jurnal, buku, laporan resmi lembaga seperti MCST dan METI, serta media-media daring, menggunakan model analisis data Miles, Huberman, dan Saldana. Rivalitas kedua negara pada penelitian ini dianalisis melalui tiga dimensi, yakni strategi distribusi dan inovasi digital, dukungan kelembagaan dan kebijakan negara, serta adaptasi lintas media dan strategi transmedia. Hasil penelitian menunjukan Korea Selatan menerapkan strategi. Platformized Soft Power melalui Webtoon dengan model bisnis inklusif, lokalisasi konten, dan integrasi transmedia, sementara Jepang menerapkan strategi IPCentric melalui Manga Plus dengan Menonjolkan kualitas konten dan pengakuan budaya yang sudah lama kuat. Rivalitas ini di satu sisi membuka peluang bagi kreator lokal dan mendorong konsumsi ke kanal legal, namun di sisi lain menimbulkan tantangan berupa ketergantungan pada platform asing dan pengaliran data pengguna ke luar negeri, sehingga Indonesia perlu merespons dengan kesadaran strategis melalui kebijakan yang mendukung kedaulatan industri kreatif digital nasional. Kata Kunci: Webtoon, Diplomasi Budaya Digital, Soft Power, Manga, Korea Selatan, Jepang.

Item Type: Other
Subjects: ?? 300 ??
?? 306 ??
?? 330 ??
?? 382 ??
Divisions: ?? hubungan_internasional ??
Depositing User: 2606906464 Digilib
Date Deposited: 03 Jul 2026 02:23
Last Modified: 03 Jul 2026 02:23
URI: http://digilib.unila.ac.id/id/eprint/101898

Actions (login required)

View Item View Item