PENGOLAHAN AIR PAYAU MENJADI AIR TAWAR DENGAN KOMBINASI METODE ELEKTROKOAGULASI DAN ADSORPSI MENGGUNAKAN KARBOSIL DARI SEKAM PADI

0417011007 , AKBAR IMAM (2012) PENGOLAHAN AIR PAYAU MENJADI AIR TAWAR DENGAN KOMBINASI METODE ELEKTROKOAGULASI DAN ADSORPSI MENGGUNAKAN KARBOSIL DARI SEKAM PADI. Digital Library.

[img] Text
ABSTRAK Bahasa Inggris.pdf

Download (0b)
[img] Text
ABSTRAK.pdf

Download (0b)
[img] Text
Bab I.pdf

Download (0b)
[img] Text
Bab II.pdf

Download (0b)
[img] Text
Bab III.pdf

Download (0b)
[img] Text
Bab IV.pdf
Restricted to Registered users only

Download (0b)
[img] Text
Bab V.pdf

Download (0b)
[img] Text
Kata Pengantar.pdf

Download (0b)
[img] Text
Pengesahan.pdf

Download (0b)
[img] Text
Riwayat Hidup.pdf

Download (0b)
[img] Text
COVER imam.pdf

Download (0b)
[img] Text
halaman judul.pdf

Download (0b)
[img] Text
lembar pengesahan.pdf

Download (0b)

Abstrak

Abstrak Dalam penelitian ini dipelajari proses pengolahan air payau menjadi air tawar dengan memadukan proses elektrokoagulasi dan adsorpsi. Pengajuan gagasan ini didasarkan pada potensi air payau sebagai air bersih, karena terdapat dalam jumlah melimpah dan kadar garamnya jauh lebih rendah dibanding dengan air laut, sehingga dapat didesalinasi dengan metode yang lebih murah dari metode desalinasi berbasis membran yang masih menjadi andalan dewasa ini. Salah satunya adalah metode adsorpsi. Masalahnya adalah air payau tidak dapat didesalinasi langsung karena air ini banyak mengandung bahan-bahan organik alami, yang dikenal secara umum sebagai natural organic matter (NOM) dalam kadar yang tinggi. Dua komponen utama air payau tersebut, mendasari pengembangan paduan metode elektrokoagulasi dan adsorpsi dalam penelitian ini. Elektrokoagulasi dimaksudkan untuk penyisihan bahan organik, sementara adsorpsi untuk penyisihan garam. Elektrokoagulasi dipilih karena sudah terbukti efektif untuk pengolahan limbah cair dengan polutan organik, sehingga diyakini dapat bekerja efektif menyisihkan bahan-bahan organik dalam air payau. Air payau bebas bahan organik selanjutnya didesalinasi menggunakan karbosil yang dibuat dari sekam padi sebagai adsorben. Karbosil dipilih karena dari penelitian sebelumnya diketahui memiliki daya adsorpsi tinggi terhadap NaCl dan dapat dibuat dengan mudah dari bahan baku yang melimpah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses elektrokoagulasi terhadap air payau dengan tiga pasang elektroda alumunium (Al) didapatkan potensial optimum pada potensial 6 volt, waktu kontak 30 menit dan susunan elekroda terbaik yaitu secara monopolar. Selain itu, hasil yang didapat menunjukkan bahwa proses elektrokoagulasi dengan berbagai parameter optimum yang digunakan mampu menurunkan kadar bahan organik air payau yang bersifat UV-aktif yang ditunjukkan oleh penurunan nilai absorbansi pada panjang gelombang 254, 272 dan 285 nm masing-masing sebesar 89,66%, 89,64% dan 91,28%. Air payau pada penelitian ini tidak menunjukkan aktifitas visible-aktif yaitu pada daerah panjang gelombang 365, 436 dan 665 nm, setelah diperlakukan secara elektrokoagulasi. Dalam penelitian ini telah dibuat karbosil dari sekam padi menggunakan metode pirolisis pada suhu 200 oC selama 6 jam. Air payau sebanyak 5 liter yang telah diperlakukan secara elektrokoagulasi kemudian dikenakan proses adsorpsi dengan laju alir 150 mL/menit menggunakan karbosil yang dihasilkan sebanyak 250 gram. Hasil yang diperoleh menunjukkan karbosil telah mampu menurunkan nilai kekeruhan, pH dan DHL air payau tersebut masing-masing sebesar 91,049%, 12,317% dan 73,191%. Karakterisasi menggunakan FTIR menunjukkan bahwa proses pirolisis telah mampu mengubah karbon dalam bentuk senyawa menjadi karbon dalam bentuk unsur. Karakterisasi menggunakan XRD menunjukkan karbosil yang dihasilkan memiliki struktur amorf. Karakterisasi menggunakan SEM menunjukkan bahwa karbosil yang dihasilkan memiliki morfologi permukaan yang homogen. Karakterisasi EDS menunjukkan bahwa karbosil telah mampu mengadsorpsi NaCl dalam air payau. Dari data yang telah didapatkan maka kombinasi metode elektrokoagulasi dan adsorpsi menggunakan karbosil dari sekam padi layak dijadikan alternatif pengolahan air payau menjadi air tawar. Kata kunci: elektrokoagulasi, adsorpsi, karbosil, air payau Abstract In this research studied the processing of brackish water into fresh water by combining electrocoagulation and adsorption processes. The filing of this idea is based on the potential of brackish water as clean water, as there are in abundance and its salts are much lower levels compared with sea water, so it can didesalinasi with a cheaper method of membrane-based desalination methods are still the mainstay of today. One is the adsorption method. The problem is didesalinasi brackish water can not directly because of this water contains natural organic ingredients, known generally as natural organic matter (NOM) in high levels. Two main components of brackish water, the underlying alloy development electrocoagulation and adsorption methods in this study. Electrocoagulation is intended for elimination of organic material, whereas adsorption to the allowance of salt. Electrocoagulation was chosen because it has proven effective for treatment of wastewater with organic pollutants, so it is believed to work effectively set aside the organic materials in brackish water. Brackish water free of organic material using the next didesalinasi karbosil made from rice husk as an adsorbent. Karbosil chosen because of previous studies are known to have high adsorption power of NaCl and can be made easily from abundant raw materials. The results indicate that the electrocoagulation process of brackish water with three pairs of electrodes of aluminum (Al) obtained optimum potential at a potential of 6 volts, the contact time of 30 minutes and the best arrangement is a monopolar elekroda. In addition, the results obtained indicate that the electrocoagulation process with different parameters of the optimum use of organic material could reduce levels of brackish water that is UV-active is indicated by the decrease in absorbance values at wavelengths 254, 272 and 285 nm respectively at 89.66 %, 89.64% and 91.28%. Brackish water in this study did not show activity that is active in the visible-wavelength region 365, 436 and 665 nm, after treated by electrocoagulation. In the present study has been made karbosil from rice husk pyrolysis method at a temperature of 200 ° C for 6 hours. As much as 5 liters of brackish water that has been treated by electrocoagulation then subjected to the adsorption process with a flow rate of 150 mL / min using karbosil generated as much as 250 grams. The results obtained indicate karbosil been able to lower the value of turbidity, pH and DHL is brackish water, each for 91.049%, 12.317% and 73.191%. Characterization using FTIR showed that the pyrolysis process has been able to convert the carbon in the form of compounds into carbon in the form of the element. Characterization using XRD showed karbosil produced has an amorphous structure. Characterization using the SEM showed that karbosil produced has a homogeneous surface morphology. EDS characterization showed that karbosil been able to adsorb NaCl in brackish water. From the data have been obtained then the combination of electrocoagulation and adsorption method using karbosil of viable rice husk used as an alternative treatment of brackish water into fresh water. Key words: electrocoagulation, adsorption, karbosil, brackish water

Tipe Karya Ilmiah: Artikel
Subyek: A General Works = Karya Karya Umum
Depositing User: IC-STAR . 2015
Date Deposited: 20 Nov 2015 01:46
Last Modified: 20 Nov 2015 01:46
URI: http://digilib.unila.ac.id/id/eprint/14362

Actions (login required)

View Item View Item