Regenerasi Krisan (Chrysanthemum morifolium) cv. Puspita Nusantara In vitro Melalui Perbanyakan Tunas Aksilar, Organogenesis, dan Aklimatisasi Plantlet

Desi Maulida, 1424011002 (2016) Regenerasi Krisan (Chrysanthemum morifolium) cv. Puspita Nusantara In vitro Melalui Perbanyakan Tunas Aksilar, Organogenesis, dan Aklimatisasi Plantlet. Masters thesis, PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER AGRONOMI.

[img]
Preview
File PDF
ABSTRAK (ABSTRACT).pdf

Download (189Kb) | Preview
[img] File PDF
TESIS FULL.pdf
Restricted to Hanya pengguna terdaftar

Download (1981Kb)
[img]
Preview
File PDF
TESIS TANPA BAB PEMAHASAN.pdf

Download (1189Kb) | Preview

Abstrak (Berisi Bastraknya saja, Judul dan Nama Tidak Boleh di Masukan)

Krisan merupakan tanaman hias penting dalam perdagangan tanaman hias dunia. Selain sebagai tanaman hias, bunga krisan dapat dimanfaatkan sebagai tanaman obat. Permintaan akan bunga krisan yang terus meningkat perlu diantisipasi dengan teknik budidaya dan program pemuliaan tanaman yang baik guna memenuhi permintaan pasar domestik dan internasional. Regenerasi tanaman in vitro atau teknik kultur jaringan dapat digunakan untuk memproduksi propagul true-to-type dalam jumlah besar dalam waktu relatif singkat tanpa dipengaruhi oleh musim, sehingga dapat dilakukan sepanjang tahun. Di samping itu, teknik kultur jaringan juga dapat digunakan sebagai teknik yang efisien untuk pemuliaan tanaman melalui induksi keragaman somaklonal. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari studi regenerasi in vitro krisan cv. Puspita Nusantara melalui perbanyakan tunas aksilar, organogenesis dari eksplan daun, dan aklimatisasi plantlet. Dalam serangkaian studi di atas, dilakukan tiga percobaan yaitu (I) regenerasi in vitro tanaman krisan dengan perbanyakan tunas aksilar dari eksplan batang satu buku; (II) organogenesis dari eksplan daun; serta (III) aklimatisasi planlet. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Ilmu Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Lampung dari bulan Agustus 2015 sampai dengan April 2016. Percobaan 1 dan III, menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) tiga ulangan, masing-masing dengan perlakuan faktor tunggal. Pada Percobaan II, data akan diolah menggunakan Standar Error (SE). Percobaan I bertujuan untuk mempelajari pengaruh arang aktif (AC) (2 g/l), benziladenin (BA 0,5, 1, dan 2 mg/l) atau kinetin (0,5, 1, dan 2 mg/l) terhadap pertumbuhan dan perbanyakan tunas aksilar krisan cv. Puspita Nusantara in vitro. Setiap unit percobaan terdiri dari 3 botol kultur yang masing-masing berisi 4 eksplan potongan batang satu buku. Tinggi tunas, jumlah tunas per eksplan, jumlah daun, jumlah buku, jumlah akar primer dan bobot segar tanaman per eksplan diamati setelah 6 minggu pengulturan eksplan. Percobaan IIa bertujuan untuk mempelajari pengaruh berbagai konsentrasi 2,4-D terhadap induksi kalus pada eksplan potongan daun krisan cv. Puspita Nusantara in vitro, dilanjutkan dengan percobaan IIb, yaitu pengaruh perlakuan yang sama (sebagaimana pada percobaan IIa) terhadap induksi tunas apabila eksplan berkalus ditransfer ke media induksi tunas (MS + 0,1 mg/l TDZ + 0,5 mg/l BA). Pada percobaan IIa konsentrasi 2,4 D yang dicobakan adalah 0, 0,25, 0,5, 1, 2 dan 3 mg/l. Setiap unit percobaan terdiri dari 5 botol kultur yang masing-masing berisi satu eksplan potongan daun. Persentase eksplan berkalus dan intensitas kalus yang terbentuk, yang diukur dengan cara skoring yang dilengkapi dengan penampilan visual eksplan berkalus diamati setelah 4 minggu pengulturan eksplan. Pada percobaan IIb, persentase ekplan yang membentuk tunas adventif dan jumlah tunas adventif per eksplan diamati setelah delapan minggu pengulturan eksplan berkalus. Percobaan III bertujuan untuk mempelajari pengaruh campuran media aklimatisasi (kompos+pasir malang, kompos+arang sekam, arang sekam) terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan plantlet selama aklimatisasi. Setiap unit percobaan terdiri dari 10 planlet berukuran seragam. Persentase dari planlet yang hidup jumlah daun, tinggi tanaman, jumlah akar, panjang akar dan bobot segar plantlet diamati setelah delapan minggu planlet dalam kondisi ex vitro. Hasil percobaan I menunjukkan bahwa setelah eksplan satu buku ditanam selama enam minggu pada media perlakuan, respons yang teramati berbeda-beda. Penambahan 2 gr/l arang aktif ke dalam media MS (MSA) meningkatkan tinggi tunas, jumlah daun, dan jumlah akar tunas krisan. Penambahan BA pada konsentrasi 0,5, 1, dan 2 mg/l ke dalam media MS menghasilkan tunas yang lebih pendek dan jumlah akar yang lebih sedikit, namun jumlah daun, buku dan tunasnya lebih banyak daripada kontrol. Penambahan 0,5 mg/lBA menghasilkan bobot segar tunas yang tidak berbeda dengan kontrol, namun penambahan 1 mg/l BA meningkatkan bobot segar tunas, sedangkan penambahan 2 mg/l BA menghasilkan bobot segar tunas yang lebih kecil. Penambahan 0,5 mg/l BA ke dalam media MS meningkatkan jumlah daun, buku dan tunas. Peningkatan konsentrasi BA dari 0,5 menjadi 1 mg/l menambah nilai rata-rata jumlah daun, buku dan tunas, namun perlakuan 2 mg/l BA menghasilkan jumlah tunas yang lebih sedikit daripada yang dihasilkan oleh perlakuan 0,5 dan 1 mg/l BA. Penambahan kinetin (0,5, 1,0, 2,0 mg/l) ke dalam media MS menghasilkan jumlah tunas yang tidak berbeda, namun lebih pendek, dengan jumlah daun, jumlah akar, jumlah buku dan bobot segar yang lebih kecil daripada kontrol maupun MSA. Hasil percobaan IIa menunjukkan bahwa baik di media tanpa 2,4-D maupun dengan penambahan 0,25 – 3 mg/l 2,4-D, semua (100%) eksplan daun membentuk kalus, namun intensitas kalus meningkat dengan penambahan 2,4-D mulai dari 0,25 mg/l. Peningkatan konsentrasi 2,4-D dari 0,25 hingga 3 mg/l secara konsisten meningkatkan intensitas kalus yang terbentuk. Pada perlakuan kontrol dan 1,25 dan 0,5 mg 2,4-D, semua eksplan daun membentuk akar, namun persentasenya menurun (80-95%) pada perlakuan 1-3 mg/l 2,4-D. Penambahan 2,4-D maupun peningkatan konsentrasi 2,4-D dari 0,25 menjadi 1, 2 atau 3 mg/l cenderung menurunkan jumlah akar yang terbentuk. Hasil percobaan IIb menunjukkan bahwa setelah ditransfer ke media induksi tunas selama 2 bulan, eksplan berkalus yang berasal dari semua perlakuan dapat membentuk tunas adventif dengan persentase yang beragam. Persentase eksplan bertunas tertinggi (63%) didapatkan pada perlakuan kontrol, 0,25 dan 0,5 mg/l 2,4-D, sedangkan perlakuan 1, 2 dan 3 mg/l 2,4-D menghasilkan persentase eksplan bertunas yang lebih kecil, yaitu berturut-turut 50%, 38% dan 38%. Walaupun demikian, dibandingkan dengan kontrol yang menghasilkan 5,4 tunas/eksplan, rata-rata jumlah tunas adventif per eksplan lebih banyak pada perlakuan dengan penambahan 2,4-D, yaitu 6-9,8 tunas/eksplan. Jumlah tunas adventif terbanyak (9,8 tunas/eksplan) didapat pada perlakuan 0,5 mg/l 2.4-D. Hasil percobaan III menunjukkan bahwa pada umur 2 bulan sejak planlet dikeluarkan dari botol, penggunaan campuran media aklimatisasi yang berbeda yaitu kompos+pasir malang, kompos+arang sekam, maupun arang sekam menghasilkan keberhasilan aklimatisasi yang relatif tinggi yaitu 73-87%. Media arang sekam menghasilkan persentase keberhasilan aklimatisasi tertinggi (87%) dengan rata-rata tinggi tanaman dan bobot segar tanaman yang lebih besar daripada kompos+pasir malang, kompos+arang sekam, namun media kompos+pasir malang menghasilkan akar lebih banyak dan lebih panjang daripada dua campuran media lainnya. Kata Kunci : krisan, in vitro, tunas aksilar, tunas adventif, organogenesis, aklimatisasi, BA, kinetin, 2,4-D, dan TDZ.

Jenis Karya Akhir: Tesis (Masters)
Subyek: > Budidaya tanaman
Program Studi: Fakultas Pertanian dan Pascasarjana > Prodi Magister Agronomi
Pengguna Deposit: 6380790 . Digilib
Date Deposited: 24 Aug 2016 09:01
Terakhir diubah: 24 Aug 2016 09:01
URI: http://digilib.unila.ac.id/id/eprint/23649

Actions (login required)

Lihat Karya Akhir Lihat Karya Akhir