ANALISA POLA PEMBASAHAN PADA SISTEM IRIGASI BAWAH PERMUKAAN (SUBSURFACE IRRIGATION) MORTAR ARANG SEKAM PADI

Nando Septiando Lakova, 1114071037 (2016) ANALISA POLA PEMBASAHAN PADA SISTEM IRIGASI BAWAH PERMUKAAN (SUBSURFACE IRRIGATION) MORTAR ARANG SEKAM PADI. Fakultas Pertanian, UNIVERSITAS LAMPUNG.

[img]
Preview
Text
ABSTRAK.pdf

Download (13Kb) | Preview
[img] Text
SKRIPSI FULL.pdf
Restricted to Hanya pengguna terdaftar

Download (3294Kb)
[img]
Preview
Text
SKRIPSI TANPA BAB PEMBAHASAN.pdf

Download (3295Kb) | Preview

Abstrak

Pada saat musim kemarau, ketersediaan air untuk mengairi tanaman menjadi masalah utama pada petani. Pemilihan sistem irigasi merupakan salah satu langkah untuk mengefisienkan penggunaan air. Mortar sebagai alat irigasi bawah permukaan yang terbuat dari arang sekam padi dengan perbandingan campuran antara semen:pasir:arang sekam padi 1:3:4, mampu merembeskan air dan memiliki kekuatan untuk menahan tekanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pembasahan dan perbedaan pola pembasahan pada sistem irigasi bawah permukaan mortar arang sekam padi dengan perbandingan tekstur tanah yang berbeda. Penelitian ini terdiri dari dua perlakuan yaitu perbandingan antara tanah dan pasir yaitu tanah:pasir 1:0 (P1), tanah:pasir 1:1 (P2), tanah:pasir 0:1 (P3) dan lama pemberian air irigasi selama 4 jam (T1), 6 jam (T2), 8 jam (T3). Perlakuan P diuji tekstur tanah dengan mencocokkan persentase kandungan pasir, debu, dan liat dengan segitiga tekstur tanah. Data berupa kadar air yang diambil dengan menggunakan alat Soil Moisture Digital dengan interval waktu pengambilan selama 40 menit. Data yang sudah didapat kemudian diolah menggunakan software Surfer 11 untuk membuat pola pembasahan. Hasil dari penelitian ini adalah tekstur tanah yang digunakan yaitu tanah lempung, lempung berpasir, dan pasir. Perlakuan P1 data perubahan kadar air yaitu rata-rata 0,2%, P2 data perubahan kadar air yaitu rata-rata 0,1%, dan P3 data perubahan kadar air yaitu rata-rata 0,0%. Pola pembasahan pada tanah (P1) yang bertekstur lempung membentuk seperti elips dengan diameter dari titik pusat mortar 15 cm. Pertambahan kadar air masih bisa bertambah pada jarak lebih dar 15 cm dengan waktu lebih dari 8 jam. Pola pembasahan pada tanah berpasir (P2) yang bertekstur lempung berpasir membentuk seperti tabung dengan diameter dari titik pusat mortar 14 cm. Pola pembasahan pada pasir (P3) tidak terlihat membentuk pola atau sembarang. Kata kunci: irigasi bawah permukaan, irigasi mortar, pola pembasahan ABSTRACT In the dry season, the availability of water to irrigate crops becomes a major problem for farmers. Selection of irrigation system is one of the steps to make efficient use of water. Mortar as subsurface irrigation tool made from rice husk with a mixture ratio of cement: sand: rice husk 1: 3: 4, capable of leaking water and have the strength to withstand the pressure. This study aims to determine the pattern of wetting and wetting pattern differences on subsurface irrigation system mortar rice husk ratio of different soil textures. The study consisted of two treatment that the comparison between the soil and the sand, soil:sand 1:0 (P1), soil:sand 1:1 (P2), soil:sand 0:1 (P3) and the duration of irrigation water for 4 hours (T1), 6 hours (T2), 8 hours (T3). Treatment P tested the soil texture to match the percentage of sand, silt, and clay in the soil texture triangle. Data in the form of water content captured using the tool Soil Moisture Digital with a time interval decision for 40 minutes. The data has been obtained and processed using the software Surfer 11 to make the wetting pattern. Results from this study is the texture of the soil used is loam, sandy loam and sand. The treatment of the data P1 moisture changes which is an average of 0,2%, the data P2 changes in water levels at an average of 0,1%, and the data P3 moisture changes which is an average of 0,0%. The pattern of wetting the soil (P1) which is textured loam to form an ellipse with a diameter of 15 cm mortar center point. Added water levels could still grow at a greater distance from 15 cm with more than 8 hours. Wetting pattern on sandy soil (P2) textured sandy loam formed as a tube with a diameter of 14 cm mortar center point. Wetting patterns on sand (P3) not seen any pattern or form. Keywords: subsurface irrigation, irrigation mortar, wetting pattern

Tipe Karya Ilmiah: Skripsi
Subyek: > Pertanian ( Umum )
> Teknologi (General)
> Teknologi (General)
Teknologi (General)
Program Studi: Fakultas Pertanian > Prodi Teknik Pertanian
Depositing User: 4840479 . Digilib
Date Deposited: 29 Dec 2016 02:47
Last Modified: 29 Dec 2016 02:47
URI: http://digilib.unila.ac.id/id/eprint/24958

Actions (login required)

View Item View Item