TRADISI PERKAWINAN ETNIS TIONGHOA DI KAMPUNG PECINAN KOTA BANDAR LAMPUNG

MAS AZIZAH , 1623031032 (2018) TRADISI PERKAWINAN ETNIS TIONGHOA DI KAMPUNG PECINAN KOTA BANDAR LAMPUNG. Masters thesis, UNIVERSITAS LAMPUNG.

[img]
Preview
Text
ABSTRAK.pdf

Download (26Kb) | Preview
[img] Text
TESIS FULL.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1632Kb)
[img]
Preview
Text
TESIS TANPA BAB PEMBAHASAN.pdf

Download (1633Kb) | Preview

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis nilai-nilai yang terkandung di dalam tradisi sebelum pelaksanaan (melamar, “Sang Jit” / “Antar Contoh Baju”, tunangan, dan penentuan hari baik), saat pelaksanaan (acara perkawinan dan kumpul keluarga), dan setelah pelaksanaan perkawinan (Cia Kiangsay dan Cia Ce’em )Masyarakat Etnis Tionghoa di Kampung Pecinan Telukbetung Selatan Kota Bandar Lampung. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi sebagai bagian dari penelitian kualitatif. Informan dalam penelitian ini yaitu tokoh agama, tokoh masyarakat, dan pelaku budaya. Lokasi penelitian yang dipilih penulis adalah Kampung Pecinan Telukbetung Selatan Kota Bandar Lampung. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya jenuh. Ukuran kejenuhan data ditandai dengan tidak diperolehnya lagi data atau informasi baru. Hasil penelitian yaitu (1) upacara menjelang perkawinan terdiri dari melamar, “Sang Jit” / “Antar Contoh Baju”, tunangan, dan penentuan hari baik. Nilai yang terkandung dalam melamar yaitu meminta izin atau restu kepada kedua orang tua dan keluarga dari pihak perempuan bahwa hubungan yang sudah terjalin akan dilanjutkan ke tahap yang lebih serius yaitu perkawinan. (2) tradisi upacara saat Perkawinan yaitu tiga sampai dengan tujuh hari menjelang perkawinan diadakan “memajang” keluarga mempelai pria dan famili dekat, mereka berkunjung ke keluarga mempelai wanita, mereka membawa beberapa perangkat untuk menghias kamar pengantin. Hamparan sprei harus dilakukan oleh keluarga pria yang masih lengkap (hidup) dan bahagia. Di atas tempat tidur diletakkan mas kawin. Ada upacara makan-makan. Calon mempelai pria dilarang menemui calon mempelai wanita sampai hari perkawinan. Malam dimana esok akan diadakan upacara perkawinan, ada upacara “Liauw Tia”. (3) Upacara sesudah perkawinan yaitu tiga hari sesudah menikah diadakan upacara yang terdiri dari Cia Kiangsay dan Cia Ce’em. intinya adalah memperkenalkan keluarga besar mempelai pria di rumah mempelai wanita. Mempelai pria sudah boleh tinggal bersama. Sedangkan “Cia Ce’em” di rumah mempelai pria, memperkenalkan seluruh keluarga besar mempelai wanita. Tujuh hari sesudah menikah diadakan upacara kunjungan ke rumah-rumah famili yang ada orang tuanya. Mempelai wanita memakai pakaian adat Tiongkok yang lebih sederhana. Nilai yang terkandung dalam Cia Kiangsay yaitu memperkenalkan keluarga besar mempelai pria di rumah mempelai wanita. Kata kunci: tradisi, perkawinan, etnis tionghoa abstract This study aims to describe and analyze the values contained in the tradition prior to the execution (applying, "Sangjit" / "Inter Example Clothes", fiancé, and determining good days), during execution (family weddings and gatherings), and after the execution of marriage (Cia Kiangsay and Cia Ce'em) Chinese Ethnic Society in Chinatown Town Bandar Lampung. This research uses phenomenology approach as part of qualitative research. Informants in this study are religious leaders, community leaders, and cultural actors. The research location chosen by the writer is Kampung Pecinan Telukbetung Selatan Bandar Lampung City. Techniques of data collection using observation, interviews, and documentation. Qualitative data analysis is done interactively and run continuously until complete, so the data is saturated. Data saturation sizes are indicated by no new data or information being retrieved. The results of the study were (1) the premarriage ceremony consisted of applying, "Sang Jit" / "Inter Example of Clothes", fiancé, and the determination of good days (2) ceremonial tradition at marriage three to seven days before the wedding held "display" groom and close family, they visit the family of the bride, (3) The ceremony after marriage that is three days after marriage is held ceremony consisting of Cia Kiangsay and Cia Ce'em. Keywords : tradition, marriage, ethnic Chinese

Tipe Karya Ilmiah: Tesis (Masters)
Subyek: L Education > L Education (General) = Pendidikan
Program Studi: Fakultas KIP > Prodi Magister Pendidikan IPS
Depositing User: 188337060 . Digilib
Date Deposited: 12 Oct 2018 06:17
Last Modified: 12 Oct 2018 06:17
URI: http://digilib.unila.ac.id/id/eprint/33666

Actions (login required)

View Item View Item