ANALISIS HUKUM AKIBAT PERCERAIAN DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM

Dewi Muslimah, 1412011103 (2018) ANALISIS HUKUM AKIBAT PERCERAIAN DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM. UNIVERSITAS LAMPUNG, FAKULTAS HUKUM .

[img]
Preview
Text
ABSTRAK.pdf

Download (19Kb) | Preview
[img] Text
SKRIPSI FULL.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1056Kb)
[img]
Preview
Text
SKRIPSI TANPA BAB PEMBAHASAN.pdf

Download (1057Kb) | Preview

Abstrak

Perceraian adalah putusnya perkawinan antara suami dan istri baik dengan thalaq, khulu’, maupun fasakh, sehingga haram kembali untuk melakukan hubungan seksual keduanya sebelum rujuk atau akad nikah baru. Perceraian dalam Islam merupakan sebuah tindakan hukum yang dibenarkan oleh agama dalam keadaan darurat, sebagaimana sabda Rasulullah bahwa perbuatan halal yang dibenci Allah adalah Thalaq. Suatu perceraian akan menimbulkan akibat hukum yang diatur dalam Al-Qur’an, Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 Tentang Perkawinan, dan Kompilasi Hukum Islam. Permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah analisis hukum akibat perceraian terhadap suami dan istri, anak, serta harta dalam perspektif hukum Islam dan pertimbangan hakim dalam menjatuhkan suatu putusan nomor: 0611/Pdt.G/2015/PA.Pas. mengenai cerai talak, nafkah istri dan anak, hadhanah, serta harta bersama. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah normatif. Tipe penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Pendekatan masalah yang digunakan adalah pendekatan normatif. Data yang digunakan adalah data sekunder yang terdiri atas bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier yang kemudian dianalisis secara kualitatif. Metode pengumpulan data menggunakan studi pustaka dan studi dokumen. Berdasarkan hasil penelitian dalam pembahasan ini adalah akibat hukum perceraian terhadap suami dan istri, anak, dan harta menurut Al-Qur’an dan Kompilasi Hukum Islam adalah sama. Akibat hukum perceraian terhadap suami atau istri menurut Al-Qur’an dan Kompilasi Hukum Islam menjelaskan secara jelas dan rinci mengenai kewajiban seorang mantan suami memberikan nafkah iddah dan mut’ah setelah terjadinya perceraian. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan tidak menyebutkan macam-macam nafkah seperti yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an dan Kompilasi Hukum Islam. Akibat hukum perceraian terhadap anak menurut Undang-Undang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam memiliki perbedaan yaitu dalam hal batas usia anak yang berhak menerima hadhanah. Undang-Undang Perkawinan menyebutkan batas usia anak yaitu 18 tahun sedangkan dalam Kompilasi Hukum Islam menyebutkan batas usia anak adalah 21 tahun atau sudah mumayyiz. Akibat hukum perceraian terhadap harta menurut Al-Qur’an, Undang-Undang Perkawinan, dan Kompilasi Hukum Islam tidak menjelaskan mengenai pembagian harta bersama atau harta gono-gini, itu artinya tidak ada ketentuan yang mutlak mengenai pembagian harta bersama apakah akan dibagi seperdua bagian atau lebih banyak ke istri atau suami, namun jika nantinya terjadi perceraian antara suami dan istri maka dalam Al-Qur’an pembagian hartanya yaitu dibagi dengan cara perdamaian yaitu kesepakatan antara suami dan istri. Pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan nomor: 0611/Pdt.G/2015/PA.Pas. mengenai cerai talak, nafkah istri dan anak, hadhanah, serta harta bersama telah sesuai dengan putusan Majelis Hakim dengan berdasarkan Al-Qur’an, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, dan Kompilasi Hukum Islam. Kata Kunci : Perceraian, Akibat Hukum, Suami, Istri, Anak, Harta

Tipe Karya Ilmiah: Skripsi
Subyek: Agama > Islam. Bahaisme. Teosofi, dll
Hukum Pidana > Agama > Islam. Bahaisme. Teosofi, dll

H Ilmu Sosial = Social Sciences > HQ The family. Marriage. Woman
Program Studi: Fakultas Hukum > Prodi Ilmu Hukum S1
Prodi Ilmu Hukum S1
Depositing User: 188815891 . Digilib
Date Deposited: 03 Jan 2019 04:30
Last Modified: 03 Jan 2019 04:30
URI: http://digilib.unila.ac.id/id/eprint/55154

Actions (login required)

View Item View Item