INTERPRETASI SEISMIK 3D PADA LINGKUNGAN PENGENDAPAN LAUT DALAM PADA LAPANGAN “SOE” DI PAPUA

Beriyan Adeam, 1015051018 (2015) INTERPRETASI SEISMIK 3D PADA LINGKUNGAN PENGENDAPAN LAUT DALAM PADA LAPANGAN “SOE” DI PAPUA. Fakultas Teknik, Universitas Lampung.

[img]
Preview
Text
1. ABSTRACT.pdf

Download (187Kb) | Preview
[img]
Preview
Text
2. ABSTRAK.pdf

Download (173Kb) | Preview
[img]
Preview
Text
3. COVER DALAM.pdf

Download (58Kb) | Preview
[img]
Preview
Text
4. HALAMAN PERSETUJUAN.pdf

Download (1010Kb) | Preview
[img]
Preview
Text
5. HALAMAN PENGESAHAN.pdf

Download (1061Kb) | Preview
[img]
Preview
Text
6. HALAMAN PERNYATAAN.pdf

Download (250Kb) | Preview
[img]
Preview
Text
7. RIWAYAT HIDUP.pdf

Download (197Kb) | Preview
[img]
Preview
Text
8. HALAMAN PERSEMBAHAN.pdf

Download (19Kb) | Preview
[img]
Preview
Text
9. HALAMAN MOTTO.pdf

Download (35Kb) | Preview
[img]
Preview
Text
10. DAFTAR ISI.pdf

Download (88Kb) | Preview
[img]
Preview
Text
11. DAFTAR TABEL.pdf

Download (3948b) | Preview
[img]
Preview
Text
12. DAFTAR GAMBAR.pdf

Download (153Kb) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB I.pdf

Download (66Kb) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB II.pdf

Download (604Kb) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB III.pdf

Download (626Kb) | Preview
[img] Text
BAB IV.pdf
Restricted to Registered users only

Download (675Kb)
[img]
Preview
Text
BAB V.pdf

Download (14Mb) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB VI.pdf

Download (129Kb) | Preview
[img]
Preview
Text
DAFTAR PUSTAKA.pdf

Download (88Kb) | Preview

Abstrak

ABSTRAK Indonesia Bagian Timur memiliki struktur geologi yang jauh berbeda dibandingkan dengan daerah lainnya di Indonesia. Struktur geologi Indonesia Timur, terutama Papua Barat, dipengaruhi oleh Lempeng Indo-Australia yang umurnya jauh lebih tua dibandingkan dengan Lempeng Eurasia yang membentuk Indonesia Bagian Barat. Hal ini membuat struktur geologi yang unik dan kompleks di Papua Barat. Interpretasi seismik telah dilakukan pada interval Krestaseus Akhir hingga Eosen Tengah. Secara keseluruhan orientasi lingkungan pengendapan ini berada pada N1350E. Fisiografi basin diinterpretasikan pada seismic section dengan melakukan flattening pada horison BASE-Z. Sudut jatuh clinoform pada umur Paleosen berkisar antara 1.6o (BASE-Z – MID-Z) hingga 2.5o (MID-Z – TOP-Z). Slope pada umur Paleosen juga cukup landai dan panjang, sehingga slope-break Paleosen yang berada di luar daerah pengamatan tersebut tidak dapat ditentukan. Untuk shelf-edge MID-Z berada di utara sumur EM-8, sedangkan pada TOP-Z berada di utara sumur EM-5. Pada Paleosen Akhir hingga Eosen Tengah terjadi progradation dimana slope yang terbentuk memiliki sudut jatuh sekitar 4o (BER-A dan BER-B) hingga 6o (BER-C). Slope break ini berhenti tepat di TOP-Z. Berdasarkan data seismik, clinoform yang terbentuk pada Eosen Tengah terpotong sebagian oleh erosi yang cukup luas di sepanjang Eosen Tengah. Erosi ini juga menghilangkan shelf-edge dari clinoform pada Eosen Tengah. Erosi tersebut diidentifikasikan sebagai batas atas sekuen lingkungan pengendapan ini. Lingkungan pengendapan pada umur Kretasius Akhir hingga Paleosen Akhir memiliki dua segmen system tract yang diawali dengan Lowstand System Tract (LST) antara BASE-Z dan MID-Z, dan diikuti dengan Highstand System Tract (HST) antara MID-Z dan TOP-Z. Di antara kedua segmen system tract tersebut diperkirakan terdapat Transgressive System Tract (TST) yang memisahkan LST dan HST di umur Paleosen, namun hal ini masih harus dibuktikan dengan data seismik yang lebih jelas lagi. Sedangkan progradation pada umur Eosen Tengah merupakan bagian dari Shelf Margin System Tract (SMST) yang terpotong oleh erosi (TOP-ABC). Kata kunci : Seismik 3D, system tract, slope ABSTRACT Eastern Indonesia has a much different geological structure than the other Indonesia’s Region. Eastern Indonesia’s geological structure, especially West Papua, is affected by Indo-Australian Plate which is much older than Eurasian Plate that forms the Western Indonesia. It makes a unique and complicated geological structure in West Papua. Seismic interpretation has been done at intervals Last Cretaceous through to Middle Eocene. Overall, the orientation of its depositional environment is about N135oE. The basin physiography is interpreted on seismic section by flattening the BASE-Z horizon. The clinoform dip angle of Paleocene is about 1.6o (BASE-Z - MID-Z) to 2.5o (MID-Z - TOP-Z). The slope of the Paleocene is quietly flat and long, so that the Paleocene slope-break which is outside the observation area cannot be determined. The MID-Z shelf-edge is in the northern EM-8 wells, while the TOP-Z is in the northern EM-5 wells. In the Late Paleocene to Middle Eocene occurred progradation where the slope is formed has a dip angle of about 4o (BER-A and BER-B) to 6o (BER-C). It slope-break is stopped right at the TOP-Z. Based on seismic data, clinoform that formed in the Middle Eocene cut off by fairly extensive erosion along the Middle Eocene. The erosion also eliminates the shelf-edge of the clinoform in the Middle Eocene. That erosion is identified as the upper boundary of this sequence depositional environment. Depositional environment of Late Cretaceous to Late Paleocene has two segments of the system tract that begins with Lowstand System Tract (LST) between BASE-Z and MID-Z, and followed by Highstand System Tract (HST) between MID-Z and TOP-Z. In between these two segments system tracts is expected there are Transgressive System Tract (TST) which is separates the LST and HST in the Paleocene, but this remains to be proved by clearer seismic data. While progradation in the Middle Eocene is part of the Shelf Margin System Tract (SMST) which is truncated by erosion (TOP-ABC). Key words : 3D Seismic, system tract, slope

Tipe Karya Ilmiah: Skripsi
Subyek: A General Works = Karya Karya Umum
Program Studi: Fakultas Teknik > Prodi Geofisika
Depositing User: 3659771 . Digilib
Date Deposited: 30 Jan 2015 03:47
Last Modified: 30 Jan 2015 03:47
URI: http://digilib.unila.ac.id/id/eprint/6575

Actions (login required)

View Item View Item