ANALISIS MAKNA B LANGKON POLA YOGYAKARTA

., Ayu Lukita Tiana (2013) ANALISIS MAKNA B LANGKON POLA YOGYAKARTA. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lampung.

[img]
Preview
Text
COVER DALAM.pdf - Published Version

Download (37Kb) | Preview
[img]
Preview
Text
ABSTRAK.pdf - Published Version

Download (42Kb) | Preview
[img]
Preview
Text
HALAMAN MENYETUJUI.pdf - Published Version

Download (122Kb) | Preview
[img]
Preview
Text
HALAMAN PENGESAHAN.pdf - Published Version

Download (71Kb) | Preview
[img]
Preview
Text
PERNYATAAN.pdf - Published Version

Download (44Kb) | Preview
[img]
Preview
Text
DAFTAR ISI.pdf - Published Version

Download (92Kb) | Preview
[img]
Preview
Text
DAFTAR GAMBAR.pdf - Published Version

Download (7Kb) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB I.pdf - Published Version

Download (67Kb) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB II.pdf - Published Version

Download (119Kb) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB III.pdf - Published Version

Download (73Kb) | Preview
[img] Text
BAB IV.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only

Download (560Kb)
[img]
Preview
Text
BAB V.pdf - Published Version

Download (31Kb) | Preview
[img]
Preview
Text
DAFTAR PUSTAKA.pdf - Published Version

Download (42Kb) | Preview
[img] Archive
LAMPIRAN.zip - Published Version

Download (924Kb)

Abstrak

Bagi orang Jawa salah satu kelengkapan berbusana adalah Blangkon. Masyarakat Jawa beranggapan bahwa kepala lelaki mempunyai arti penting, sehingga pelindung kepala lelaki sebagai penutup tubuh yang amat diutamakan, sehingga masyarakat Jawa kuno menggunakan Blangkon sebagai pakaian keseharian dan dapat dikatakan pakaian wajib. Seiring bergantinya zaman terutama pada era kolonialisme dan berlanjut ke era globalisasi seperti saat ini, banyak budaya, adat, dan segala sesuatunya masuk ke tanah Jawa khususnya Yogyakarta. Pengaruhpengaruh tersebut telah memengaruhi pola pikir, kebiasaan, dan lain-lain. Hal itu mengakibatkan adanya suatu pergesekan budaya yang tidak bisa dihindari. Blangkon adalah salah satu budaya yang terkena dampaknya. Pada zaman dahulu Blangkon merupakan simbol kebanggaan para pria Jawa, namun telah tergeser oleh produk-produk barat yang datang dan berkembang secara cepat. Saat ini telah jarang ditemukan orang yang memakai Blangkon. Saat ini Blangkon dianggap sebagai sesuatu yang kuno dan tidak relevan untuk dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Bentuk Blangkon sangat sederhana, akan tetapi dibalik kesederhanaannya itu Blangkon memiliki beberapa makna yaitu makna estetika, makna martabat, dan makna etika. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah makna estetika, makna martabat, dan makna etika Blangkon pola Yogyakarta di Kraton Yogyakarta. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui makna estetika, makna martabat, dan makna etika Blangkon pola Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data observasi, wawancara dan dokumentasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode heurmeneutika sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis data kualitatif. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh hasil bahwa makna estetika Blangkon pola Yogyakarta terlihat dari bentuk Blangkon pola Yogyakarta yang terdiri dari Mondolan, Jebehan (Sintingan), Wiron, Kuncung, Tengahan (Cewekan), dan Kepet. Dapat juga dilihat dari motif Blangkon pola Yogyakarta yang terdiri atas motif Blumbangan, Modang, Wirasat, Clengkewengan, Truntum, Jumputan, dan Kumitir. Bentuk yang sempurna dan adanya motif-motif membuat Blangkon pola Yogyakarta menjadi lebih indah dan memberikan kesan nyaman bagi pemakainya. Makna martabat Blangkon pola Yogyakarta terdiri atas fungsi dan kegunaan Blangkon pola Yogyakarta sebagai pembeda antara golongan masyarakat Jawa. Blangkon pola Yogyakarta dipakai oleh pria Jawa pada zaman dahulu karena memiliki fungsi dan kegunaan yang dapat menunjukan kewibawaan seorang pria. Blangkon pola Yogyakarta juga digunakan sebagai alat pembeda dalam menentukan status sosial orang Jawa. Namun demikian seiring berkembangnya zaman dan kehidupan masyarakat Jawa yang sudah demokratis, Blangkon pola Yogyakarta tidak lagi digunakan sebagai alat pembeda antara golongan sosial yang satu dengan golongan sosial lainnya. Hanya saja untuk saat ini perbedaannya terletak pada bahan dan kualitasnya. Makna etika Blangkon pola Yogyakarta terdiri dari dua bagian yaitu faktor rasa pada tradisi orang Jawa dan kepribadian orang Jawa. faktor rasa pada tradisi orang Jawa berhubungan dengan penilaian tentang baik atau buruk pantas atau tidak pantas dalam membuat suatu benda termasuk dalam membuat Blangkon pola Yogyakarta, sehingga baik untuk dipakai oleh seseorang dan sesuai dengan etika. Kepribadian orang Jawa dijelaskan apabila orang Jawa memakai suatu atribut dalam berpakaian maka secara langsung mempengaruhi tingkah laku, cara berbicara, cara berjalan, dan sebagainya. pemakaian Blangkon pola Yogyakarta di kepala terlihat lebih rapi, tingkah lakunya menjadi lebih sopan, serta tutur katanya pun lebih baik dan lemah lembut, misalnya pada Abdi Dalem di Kraton Yogyakarta.

Tipe Karya Ilmiah: Skripsi
Subyek: L Education > LA History of education
Program Studi: FKIP > Prodi Pendidikan Sejarah IPS
Depositing User: A.Md Cahya Anima Putra .
Date Deposited: 04 Feb 2014 08:07
Last Modified: 04 Feb 2014 08:07
URI: http://digilib.unila.ac.id/id/eprint/875

Actions (login required)

View Item View Item