KARAKTERISASI BAKTERI PATOGEN Vibrio parahaemolyticus PADA BAWAL BINTANG (Trachinotus blochii): MORFOLOGI SEL, UJI BIOKIMIA, DAN RESISTENSI TERHADAP SENYAWA ANTIMIKROBA

RAKHMAT , HADI SAPUTRA (2025) KARAKTERISASI BAKTERI PATOGEN Vibrio parahaemolyticus PADA BAWAL BINTANG (Trachinotus blochii): MORFOLOGI SEL, UJI BIOKIMIA, DAN RESISTENSI TERHADAP SENYAWA ANTIMIKROBA. Masters thesis, UNIVERSITAS LAMPUNG .

[img]
Preview
File PDF
ABSTRAK - Rakhmat Hadi Saputra.pdf

Download (14Kb) | Preview
[img] File PDF
TESIS FULL - Rakhmat Hadi Saputra.pdf
Restricted to Hanya staf

Download (1774Kb) | Minta salinan
[img]
Preview
File PDF
TESIS TANPA BAB PEMBAHASAN - Rakhmat Hadi Saputra.pdf

Download (1775Kb) | Preview

Abstrak (Berisi Bastraknya saja, Judul dan Nama Tidak Boleh di Masukan)

Industri perikanan budi daya laut menghadapi tantangan besar dalam pengendalian penyakit yang disebabkan oleh bakteri patogen. Salah satu patogen yang sering menyerang ikan budi daya adalah Vibrio parahaemolyticus, yang dapat menyebabkan vibriosis pada ikan laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi bakteri patogen Vibrio parahaemolyticus (VP1, VP2, VP3, VP4, dan VP5) yang diisolasi dari ikan bawal bintang (Trachinotus blochii) dan menganalisis efektivitas senyawa antibakteri dalam menghambat pertumbuhan bakteri. Karakterisasi bakteri V. parahaemolyticus meliputi uji media selektif CHROMagar Vibrio (CV), konfirmasi gen toxR dengan metode PCR, aktivitas hemolitik pada medium blood agar plate (BAP) uji biokimia dengan metode API 20E, uji patogenisitas secara in vivo pada bawal bintang, dan uji sensitivitas terhadap antibiotik dan bahan antimikroba. Hasil penelitian menunjukkan bakteri V. parahaemolyticus tumbuh pada media CV dengan warna biru kemerahan, teramplifikasi gen toxR, hemolitik positif, morfologi koloni berwarna krem dengan tepi bergelombang, mampu memfermentasi beberapa karbohidrat, termasuk glukosa, mannitol, dan sukrosa. Uji patogenisitas in vivo pada ikan bawal bintang menunjukkan gejala klinis berupa lesu, peradangan pada sirip, dan perdarahan, yang menandakan bahwa V. parahaemolyticus merupakan patogen penyebab vibriosis pada ikan. Uji antibakteri menunjukkan bahwa enrofloxacin adalah antibiotik yang paling efektif, diikuti oleh tetrasiklin dan oksitetrasiklin. Ekstrak jintan hitam menunjukkan hasil yang lebih bervariasi, meskipun tetap menunjukkan potensi antibakteri alami. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan dasar yang lebih kuat untuk pengendalian vibriosis di perikanan budi daya serta mendorong pengembangan alternatif antibakteri alami. Kata Kunci: Ikan Bawal Bintang, Karakterisasi Biokimia, Uji Antibakteri, Vibrio parahaemolyticus The marine aquaculture industry faces significant challenges in controlling diseases caused by pathogenic bacteria. One of the common pathogens affecting farmed fish is Vibrio parahaemolyticus, which can cause vibriosis in marine fish. This study aims to characterize the pathogenic bacterium Vibrio parahaemolyticus (VP1, VP2, VP3, VP4, and VP5) isolated from star pomfret (Trachinotus blochii) and to analyze the effectiveness of antibacterial compounds in inhibiting bacterial growth. The characterization of V. parahaemolyticus included selective culturing on CHROMagar Vibrio (CV), toxR gene confirmation using PCR, hemolytic activity testing on blood agar plate (BAP), biochemical identification via the API 20E method, in vivo pathogenicity testing on silver pompano, and sensitivity testing against antibiotics and antimicrobial substances. The results showed that V. parahaemolyticus produced reddish-purple colonies on CV, exhibited toxR gene amplification, and was hemolysis-positive. Colony morphology appeared cream- colored with undulate edges, and the bacterium was able to ferment several carbohydrates, including glucose, mannitol, and sucrose. In vivo pathogenicity tests revealed clinical symptoms such as lethargy, fin inflammation, and hemorrhaging, confirming V. parahaemolyticus as the causative pathogen of vibriosis in fish. Antibacterial testing indicated that enrofloxacin was the most effective antibiotic, followed by tetracycline and oxytetracycline. Black cumin (Nigella sativa) extract exhibited more variable results but still demonstrated potential as a natural antibacterial agent. This study is expected to provide a stronger foundation for the control of vibriosis in aquaculture and support the development of alternative natural antibacterial treatments. Keywords: Antibacterial Testing, Biochemical Characterization, Silver pompano, Vibrio parahaemolyticus

Jenis Karya Akhir: Tesis (Masters)
Subyek: 600 Teknologi (ilmu terapan) > 630 Pertanian dan teknologi yang berkaitan
Program Studi: FAKULTAS PERTANIAN (FP) & PASCASERJANA > Prodi S2 Magister Manajemen Wilayah Pesisir dan Laut
Pengguna Deposit: UPT . Siswanti
Date Deposited: 30 Oct 2025 07:29
Terakhir diubah: 30 Oct 2025 07:29
URI: http://digilib.unila.ac.id/id/eprint/92413

Actions (login required)

Lihat Karya Akhir Lihat Karya Akhir