Bustanul , Arifin Sodiq (2026) PERTANGGUNGJAWABAN HUKUM PENGADAAN BARANG DAN JASA MELALUI SISTEM E-PROCUREMENT. Masters thesis, UNIVERSITAS LAMPUNG.
|
Text
ABSTRAK.pdf Download (2MB) | Preview |
|
|
Text
REVISI TESIS TIPIKOR BUSTANUL CETAK 230126.pdf Restricted to Repository staff only Download (2MB) | Request a copy |
||
|
Text
REVISI TESIS TIPIKOR BUSTANUL CETAK 230126.pdf Download (2MB) | Preview |
Abstract
Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (PBJP) merupakan kegiatan yang rentan akan risiko penyimpangan dan kerugian negara. Dalam rangka meningkatkan efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas, Pemerintah telah mengimplementasikan sistem elektronik pengadaan (E-Procurement) melalui Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengetahui presprektif pertanggungjawaban hukum administrasi dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah melalui sistem E-Procurement, menganalisis dan mengetahui presprektif pertanggungjawaban hukum perdata dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah melalui sistem E-Procurement, menganalisis dan mengetahui presprektif pertanggungjawaban hukum pidana dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah melalui sistem E-Procurement, serta menganalisis hubungan pertanggungjawaban antara hukum administrasi, perdata, dan pidana dalam PBJP melalui sistem E-Procurement. Penelitian merupakan penelitian hukum normatif-empiris dengan menggunakan statute approach, case approach, dan conceptual approach yang berkaitan dengan Pertanggungjawaban Hukum Pengadaan Barang dan Jasa Melalui Sistem E-Procurement yang di analisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa 1) Pertanggungjawaban Administrasi dalam PBJP berfokus pada pelanggaran prosedur administratif. Sanksinya berupa teguran, denda, daftar hitam, dan diselesaikan melalui sanggah, sanggah banding atau gugatan di PTUN. 2) Pertanggungjawaban Perdata timbul dari hubungan kontraktual yang biasanya berwujud wanprestasi (keterlambatan atau ketidaksesuaian spesifikasi). Penyelesaiannya melalui mediasi, gugatan perdata, arbitrase dengan ganti rugi berdasarkan KUHPerdata. 3) Pertanggungjawaban Pidana terkait Tindak Pidana Korupsi (suap, penggelapan, pemalsuan dokumen, atau gratifikasi) yang disertai niat jahat (mens rea), sanksinya pidana penjara dan denda (berdasarkan UU Tipikor), berlaku di semua tahapan PBJP. 4) Hubungan Ketiga pertanggungjawaban itu saling melengkapi, namun Aparat Penegak Hukum sering mendahulukan hukum pidana (mengalahkan administrasi dan perdata), sehingga hukum pidana menjadi primum remidium (pilihan pertama) alih-alih ultimum remidium (pilihan terakhir).
| Item Type: | Thesis (Masters) |
|---|---|
| Subjects: | ?? 341 ?? |
| Divisions: | Fakultas Hukum > Magister Hukum S2 |
| Depositing User: | 2507449724 Digilib |
| Date Deposited: | 23 Jan 2026 04:09 |
| Last Modified: | 23 Jan 2026 04:09 |
| URI: | http://digilib.unila.ac.id/id/eprint/94894 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
