PERAN BADAN URUSAN LOGISTIK ( BULOG) SEBAGAI WUJUD PENERAPAN SWASEMBADA BERAS DI INDONESIA TAHUN 1967-1984

SINWANI , - (2025) PERAN BADAN URUSAN LOGISTIK ( BULOG) SEBAGAI WUJUD PENERAPAN SWASEMBADA BERAS DI INDONESIA TAHUN 1967-1984. FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN, UNIVERSITAS LAMPUNG.

[img]
Preview
File PDF
ABSTRAK.pdf

Download (227Kb) | Preview
[img] File PDF
SKRIPSI FULL.pdf
Restricted to Hanya staf

Download (1178Kb) | Minta salinan
[img]
Preview
File PDF
SKRIPSI FULL TANPA BAB PEMBHASAN.pdf

Download (947Kb) | Preview

Abstrak (Berisi Bastraknya saja, Judul dan Nama Tidak Boleh di Masukan)

Pemerintahan Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto pada periode 1967–1984 dikenal sebagai Orde Pembangunan yang menempatkan sektor pangan sebagai salah satu prioritas utama pembangunan nasional. Beras sebagai bahan pangan pokok masyarakat Indonesia menjadi fokus utama kebijakan pemerintah dalam upaya mencapai swasembada pangan. Untuk mengontrol produksi, distribusi, dan stabilitas harga beras, pemerintah membentuk Badan Urusan Logistik (BULOG) sebagai lembaga pangan negara. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran BULOG dalam mencapai swasembada beras di Indonesia pada tahun 1967–1984. Penelitian ini menggunakan metode penelitian historis yang meliputi tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Sumber penelitian terdiri atas sumber primer berupa Keputusan Presiden Nomor 114/Kep/1967 tentang pembentukan BULOG, dokumen Departemen Pertanian mengenai haluan pembangunan pertanian Indonesia dalam Pelita II, serta laporan majalah Tempo edisi 21 November 1981. Sumber sekunder yang digunakan meliputi karya Leon A. Mears dalam Ekonomi Orde Baru serta Sejarah Nasional Indonesia jilid VI karya M.J. Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan pangan melalui BULOG mampu meningkatkan produksi beras melalui program pembangunan pertanian yang terencana, seperti intensifikasi, ekstensifikasi, kebijakan harga, perbaikan pemasaran, dan penyediaan lembaga perkreditan. Melalui program Bimbingan Massal (BIMAS), produksi beras meningkat dari 12,2 juta ton pada tahun 1969 menjadi 25,8 juta ton pada tahun 1984. Dalam aspek distribusi, BULOG membangun jaringan gudang penyimpanan beras dengan kapasitas mencapai 3,5 juta ton sebagai buffer stock untuk menjaga stabilitas harga dan menjamin ketersediaan beras hingga ke daerah terpencil. Kebijakan tersebut dirumuskan dalam Rencana Pembangunan Lima Tahun (REPELITA) dan mengantarkan Indonesia memperoleh penghargaan dari FAO sebagai negara swasembada beras. Kata Kunci: Orde Baru, Swasembada Beras, BULOG

Jenis Karya Akhir: Skripsi
Subyek: 300 Ilmu sosial > 370 Pendidikan
Program Studi: FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (FKIP) > Prodi S1 Pendidikan Sejarah IPS
Pengguna Deposit: 2507283761 Digilib
Date Deposited: 05 Feb 2026 06:42
Terakhir diubah: 05 Feb 2026 06:42
URI: http://digilib.unila.ac.id/id/eprint/95733

Actions (login required)

Lihat Karya Akhir Lihat Karya Akhir