KOMITMEN BANGLADESH TERHADAP PERJANJIAN LINGKUNGAN INTERNASIONAL SEBAGAI NEGARA PRODUSEN FAST FASHION

CYNTIA APRIANI , AMBARITA (2026) KOMITMEN BANGLADESH TERHADAP PERJANJIAN LINGKUNGAN INTERNASIONAL SEBAGAI NEGARA PRODUSEN FAST FASHION. FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK , UNIVERSITAS LAMPUNG.

[img]
Preview
File PDF
ABSTRAK (ABSTRACT).pdf

Download (200Kb) | Preview
[img] File PDF
SKRIPSI FULL.pdf
Restricted to Hanya staf

Download (2506Kb) | Minta salinan
[img]
Preview
File PDF
SKRIPSI TANPA PEMBAHASAN.pdf

Download (1420Kb) | Preview

Abstrak (Berisi Bastraknya saja, Judul dan Nama Tidak Boleh di Masukan)

Industri fast fashion merupakan salah satu penggerak ekonomi global sekaligus sumber kerusakan lingkungan melalui penggunaan energi, bahan kimia berbahaya, serta produksi limbah dan emisi. Dalam rantai pasok global, Bangladesh menempati posisi sebagai produsen fast fashion terbesar dunia dan bergantung pada sektor ready made garment. Di sisi lain, Bangladesh telah meratifikasi Paris Agreement, Basel Convention, dan Stockholm Convention yang mewajibkan pengendalian emisi, pengelolaan limbah berbahaya, serta penghapusan bahan kimia beracun. Namun, pencemaran industri serta limbah tekstil masih terus berlangsung dan menimbulkan pertanyaan mengenai kepatuhan Bangladesh terhadap komitmen lingkungan internasionalnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komitmen dan upaya Bangladesh sebagai negara produsen fast fashion dalam memenuhi kewajiban lingkungan internasional. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kepustakaan yang bersumber pada perjanjian internasional, dokumen resmi pemerintah Bangladesh, laporan lembaga internasional, dan jurnal akademik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bangladesh secara aktif mengimplementasikan kewajiban internasionalnya melalui berbagai kebijakan dan program seperti pelaporan emisi, regulasi limbah berbahaya, serta pengendalian bahan kimia beracun. Namun, komitmen ini dinilai hanya karena tekanan global buyer. Ketergantungan ekonomi pada sektor garmen, dan keterbatasan kapasitas, menyebabkan kerusakan lingkungan domestik tetap tinggi, sehingga menciptakan kesenjangan antara kepatuhan formal terhadap perjanjian internasional dan realitas lingkungan di tingkat nasional.

Jenis Karya Akhir: Skripsi
Subyek: 300 Ilmu sosial > 320 Ilmu politik (politik dan pemerintahan) > 321 Sistem pemerintahan dan sistem negara
300 Ilmu sosial > 320 Ilmu politik (politik dan pemerintahan) > 324 Proses politik
Program Studi: FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK (FISIP) > Prodi S1-Hubungan Internasional
Pengguna Deposit: 2602928051 Digilib
Date Deposited: 06 Apr 2026 06:37
Terakhir diubah: 06 Apr 2026 06:37
URI: http://digilib.unila.ac.id/id/eprint/97982

Actions (login required)

Lihat Karya Akhir Lihat Karya Akhir