FEBE JESSICA , NAZARETH (2026) TANTANGAN KEBIJAKAN IMPOR SINGKONG TERHADAP PROGRAM KETAHANAN PANGAN INDONESIA TAHUN 2020-2024. FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK, UNIVERSITAS LAMPUNG.
|
File PDF
ABSTRAK.pdf Download (208Kb) | Preview |
|
|
File PDF
SKRIPSI FULL.pdf Restricted to Hanya staf Download (2180Kb) | Minta salinan |
||
|
File PDF
SKRIPSI TANPA BAB PEMBAHASAN.pdf Download (1834Kb) | Preview |
Abstrak (Berisi Bastraknya saja, Judul dan Nama Tidak Boleh di Masukan)
Pada tahun 2020-2024, Indonesia mampu memproduksi singkong untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri dan bahkan beberapa kali melakukan ekspor. Akan tetapi, singkong lokal menghadapi ancaman berupa produk impor yang masuk untuk memenuhi kebutuhan industri tapioka. Penelitian ini akan menganalisis tantangan-tantangan kebijakan impor singkong terhadap program ketahanan pangan di Indonesia tahun 2020-2024 melalui 4 pilar ketahanan pangan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif eksplanatif melalui studi pustaka dan studi dokumen, serta menggunakan kerangka konsep kerja sama impor, kebijakan impor, dan ketahanan pangan. Analisis dilakukan dengan menggunakan teknik kondensasi, penyajian, dan penarikan kesimpulan oleh Miles, Huberman, dan Saldana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemudahan impor singkong diperoleh dari hasil perjanjian internasional yaitu AFTA/ATIGA dan ACFTA yang menetapkan tarif impor singkong menjadi 0%, sehingga produk luar negeri lebih mudah masuk dan menekan harga singkong lokal. Kebijakan impor menimbulkan beberapa tantangan dalam pelaksanaan program ketahanan pangan tahun 20202024, baik dalam pilar ketersediaan, keterjangkauan, maupun pemanfaatan pangan. Pada pilar ketersediaan pangan, tantangan yang muncul antara lain perbedaan standar yang diterapkan antara pabrik dan SNI, ketidakpastian harga singkong, ketergantungan petani singkong terhadap pabrik tapioka, tidak adanya subsidi pupuk, dan kurangnya pengetahuan petani tentang varietas dan lama masa tanam. Pada pilar keterjangkauan pangan, kesulitan petani miskin dalam menjangkau pangan bergizi menjadi tantangan utama. Pada pilar pemanfaatan pangan, tantangannya ialah kurangnya pengetahuan petani untuk mengolah singkong agar memiliki nilai tambah, sehingga banyak singkong terbuang dan menjadi food loss. Tantangan terhadap ketiga pilar tersebut menyebabkan pilar keempat yaitu stabilitas pangan belum dapat terwujud. Kata kunci: Indonesia, kebijakan impor, program ketahanan pangan, singkong From 2020 to 2024, Indonesia was able to produce cassava to meet domestic demand and even exported it on several occasions. However, local cassava faced threats from imports to meet the needs of the tapioca industry. This study will analyze the challenges posed by cassava import policies to Indonesia's food security program from 2020 to 2024, based on the four pillars of food security. This study employed a qualitative explanatory method through literature and document studies, and utilized the conceptual framework of import cooperation, import policy, and food security. The analysis was conducted using condensation, presentation, and conclusion-drawing techniques developed by Miles, Huberman, and Saldana. The results indicate that the ease of cassava imports stems from international agreements, namely AFTA/ATIGA and ACFTA, which set the cassava import tariff at 0%, facilitating the entry of foreign products and suppressing local cassava prices. Import policies pose several challenges to the implementation of the 2020 to 2024 food security program, including in the pillars of availability, accessibility, and food utilization. In the food availability pillar, challenges that arise include differences in standards applied between factories and the Indonesian National Standard (SNI), uncertainty in cassava prices, dependence of cassava farmers on tapioca factories, the lack of fertilizer subsidies, and farmers' lack of knowledge about varieties and planting periods. In the food accessibility pillar, the difficulty of poor farmers in accessing nutritious food is a major challenge. In the food utilization pillar, the challenge is farmers' lack of knowledge in processing cassava to add value, resulting in much cassava being wasted and becoming food loss. Challenges to these three pillars have prevented the fourth pillar, food stability, from being realized. Keywords: cassava, food security, import policy, Indonesia
| Jenis Karya Akhir: | Skripsi |
|---|---|
| Subyek: | 300 Ilmu sosial 300 Ilmu sosial > 320 Ilmu politik (politik dan pemerintahan) |
| Program Studi: | FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK (FISIP) > Prodi S1-Hubungan Internasional |
| Pengguna Deposit: | 2602581695 Digilib |
| Date Deposited: | 06 May 2026 03:02 |
| Terakhir diubah: | 06 May 2026 03:02 |
| URI: | http://digilib.unila.ac.id/id/eprint/99092 |
Actions (login required)
![]() |
Lihat Karya Akhir |
