NAJWA, ANGEL (2026) KAIN ENDEK BALI SEBAGAI INSTRUMEN DIPLOMASI BUDAYA INDONESIA PADA FORUM KTT G20 TAHUN 2022. Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik, Universitas Lampung.
|
File PDF
ABSTRAK.pdf Download (476Kb) | Preview |
|
|
File PDF
SKRIPSI FULL.pdf Restricted to Hanya staf Download (2885Kb) | Minta salinan |
||
|
File PDF
SKRIPSI FULL TANPA PEMBAHASAN.pdf Download (1736Kb) | Preview |
Abstrak (Berisi Bastraknya saja, Judul dan Nama Tidak Boleh di Masukan)
Kain Endek Bali telah menjadi salah satu instrumen diplomasi budaya Indonesia pada penyelenggaraan forum Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 dalam memperluas pengaruhnya dan menekan dialog antar negara di tingkat global. Indonesia sebagai negara dengan keberagaman budaya secara aktif memanfaatkan produk budaya. Oleh karena itu, Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pemerintah Indonesia memanfaatkan kain endek sebagai instrumen diplomasi budaya. Penelitian ini menggunakan kerangka diplomasi budaya oleh Simon Mark yang terdiri dari empat elemen, yaitu actors, objectives, activities, dan audiences dan konsep soft power sebagai alat analisis. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analisis dengan teknis analisis data sekunder yang berasal dari laporan resmi, website lokal dan internasional, publikasi resmi pemerintah Indonesia, publikasi jurnal serta akademik terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa empat komponen dalam diplomasi budaya yaitu actor yang merupakan Kemendikbudristek, Kementerian Sekretariat Negara Indonesia, Pemerintah Provinsi Bali, Pelaku UMKM Kain Endek, Pengrajin Kain Endek, objectives yaitu diplomasi budaya untuk menekan dialog antar negara dan meningkatkan kerja sama perdagangan internasional melalui ekspor, activities melalui pemanfaatan kain endek sebagai busana resmi semi-kasual kemeja dalam acara Welcoming Dinner and Cultural Performance G20, dan audiences nya adalah pemimpin negara dan media internasional. Indonesia meningkatkan strategi soft power melalui diplomasi budaya, nilai politik dan kebijakan luar negeri. Strategi ini sejalan dengan kebijakan luar negeri Indonesia yakni mempromosikan kekayaan warisan budaya Indonesia di luar negeri dengan menerapkan kain endek sebagai busana resmi pada forum KTT G20. Balinese Endek cloth has emerged as one of Indonesia’s cultural diplomacy instruments in the G20 Summit, functioning as a medium to expand cultural influence and stimulate international dialogue. As a country characterized by rich cultural diversity, Indonesia strategically mobilizes its cultural assets to strengthen its global positioning. This study aims to analyze how the Indonesian government utilized Endek cloth as part of its cultural diplomacy strategy during the G20 Summit. The research applies Simon Mark’s cultural diplomacy framework, consisting of actors, objectives, activities, and audiences, alongside the concept of soft power as analytical tools. Employing a qualitative approach, this study relies on secondary data drawn from official reports, government publications, academic literature, and relevant online sources. The findings demonstrate that the use of Endek cloth reflects a structured cultural diplomacy practice involving multiple actors, including state institutions, local government, and cultural producers. The objectives extend beyond symbolic representation to fostering international dialogue and enhancing economic cooperation, particularly through export opportunities. The activities, manifested in the designation of Endek as semi-formal official attire during the G20 Welcoming Dinner and Cultural Performance, positioned cultural expression within a formal diplomatic setting, targeting world leaders and international media as primary audiences. The study further finds that Indonesia’s soft power strategy operates not only through cultural display but also through the integration of political values and foreign policy orientation. Overall, the research indicates a shift from cultural representation toward strategic cultural utilization, in which traditional heritage is transformed into a diplomatic instrument to advance Indonesia’s global engagement.
| Jenis Karya Akhir: | Skripsi |
|---|---|
| Subyek: | 300 Ilmu sosial 300 Ilmu sosial > 306 Kultur, ilmu budaya, kebudayaan dan lembaga-lembaga, institusi 300 Ilmu sosial > 320 Ilmu politik (politik dan pemerintahan) |
| Program Studi: | FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK (FISIP) > Prodi S1-Hubungan Internasional |
| Pengguna Deposit: | 2605045936 Digilib |
| Date Deposited: | 12 May 2026 01:17 |
| Terakhir diubah: | 12 May 2026 01:17 |
| URI: | http://digilib.unila.ac.id/id/eprint/99423 |
Actions (login required)
![]() |
Lihat Karya Akhir |
