EVALUASI PENINGKATAN INDEKS INOVASI DAERAH KOTA BANDARLAMPUNG PADA BAPPERIDA KOTA BANDAR LAMPUNG TAHUN 2023-2024

DWI , MULYANTI (2026) EVALUASI PENINGKATAN INDEKS INOVASI DAERAH KOTA BANDARLAMPUNG PADA BAPPERIDA KOTA BANDAR LAMPUNG TAHUN 2023-2024. FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK, UNIVERSITAS LAMPUNG.

[img]
Preview
File PDF
ASBTRAK.pdf

Download (213Kb) | Preview
[img] File PDF
SKRIPSI FULL TANPA LAMPIRAN.pdf
Restricted to Hanya staf

Download (1728Kb) | Minta salinan
[img]
Preview
File PDF
SKRIPSI FULL TANPA PEMBAHASAN.pdf

Download (1591Kb) | Preview

Abstrak (Berisi Bastraknya saja, Judul dan Nama Tidak Boleh di Masukan)

Penelitian ini mengkaji peningkatan Indeks Inovasi Daerah (IID) Kota Bandar Lampung periode 2023–2024 dengan fokus pada peran Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) sebagai koordinator inovasi daerah. Urgensi penelitian didasarkan pada peningkatan skor IID Kota Bandar Lampung dari 70,33 pada tahun 2023 menjadi 72,07 pada tahun 2024, namun tidak diikuti kestabilan peringkat nasional yang menurun dari peringkat 6 menjadi 13. Kondisi ini menunjukkan bahwa peningkatan skor belum sepenuhnya mencerminkan optimalisasi kualitas inovasi daerah. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan model evaluasi CIPP (Context, Input, Process, Product). Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis tematik dan triangulasi data. Fokus penelitian meliputi kesesuaian kebijakan, kesiapan sumber daya, pelaksanaan peningkatan IID, serta capaian hasil inovasi daerah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada aspek context, kebijakan peningkatan IID telah memiliki arah strategis dan regulasi yang jelas serta mengalami perubahan orientasi dari kuantitas menuju kualitas inovasi. Pada aspek input, dukungan regulasi, anggaran, sarana prasarana, dan sistem informasi telah tersedia, namun kapasitas sumber daya manusia dan pemahaman indikator IID masih belum merata. Pada aspek process, pelaksanaan sosialisasi, pendampingan, verifikasi, dan monitoring berbasis aplikasi Sinovak telah berjalan cukup baik, tetapi masih terdapat kendala pada kualitas dokumentasi dan kesesuaian bukti dukung inovasi. Pada aspek product, peningkatan skor IID menunjukkan adanya perbaikan pengelolaan inovasi daerah, meskipun belum diikuti stabilitas peringkat nasional. Penelitian ini menyimpulkan bahwa peningkatan IID Kota Bandar Lampung telah menunjukkan kemajuan, namun belum optimal secara substantif dan berkelanjutan. Oleh karena itu, diperlukan penguatan kapasitas sumber daya manusia, peningkatan kualitas dokumentasi inovasi, serta evaluasi internal yang lebih sistematis untuk meningkatkan kualitas inovasi daerah. Kata kunci: Indeks Inovasi Daerah, evaluasi kebijakan, model CIPP, inovasi daerah, kinerja inovasi pemerintah daerah. This study examines the improvement of the Regional Innovation Index (Indeks Inovasi Daerah/IID) of Bandar Lampung City during the 2023–2024 period, focusing on the role of the Regional Development Planning, Research, and Innovation Agency (Bapperida) as the regional innovation coordinator. The urgency of this study is based on the increase in the IID score of Bandar Lampung City from 70,33 in 2023 to 72,07 in 2024, which was not accompanied by stable national rankings, declining from 6th place to 13th place. This condition indicates that the increase in scores has not fully reflected the optimization of regional innovation quality.This study employed a qualitative descriptive approach using the CIPP (Context, Input, Process, Product) evaluation model. Data were collected through interviews, observations, and documentation, then analyzed using thematic analysis and data triangulation techniques. The research focused on policy suitability, resource readiness, implementation of IID improvement, and the achievement of regional innovation outcomes. The findings show that in the context aspect, IID improvement policies already had clear strategic directions and regulatory foundations, with a shift in orientation from quantity-based to qualitybased innovation. In the input aspect, support in terms of regulations, budget, infrastructure, and information systems was available; however, human resource capacity and understanding of IID indicators were still uneven. In the process aspect, socialization, assistance, verification, and monitoring through the Sinovak application had been implemented quite well, although challenges remained regarding documentation quality and the suitability of supporting evidence. In the product aspect, the increase in IID scores indicated improvements in regional innovation management, although it was not followed by stable national rankings.This study concludes that the improvement of the IID in Bandar Lampung City has shown progress but has not yet reached substantive and sustainable optimization. Therefore, strengthening human resource capacity, improving innovation documentation quality, and conducting more systematic internal evaluations are necessary to enhance the quality of regional innovation. Keywords: Regional Innovation Index, policy evaluation, CIPP model, regionaliii innovation, local government innovation performance.

Jenis Karya Akhir: Skripsi
Subyek: 300 Ilmu sosial
300 Ilmu sosial > 320 Ilmu politik (politik dan pemerintahan) > 321 Sistem pemerintahan dan sistem negara
Program Studi: FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK (FISIP) > Prodi S1-Ilmu Pemerintahan
Pengguna Deposit: 2605966911 Digilib
Date Deposited: 20 May 2026 01:41
Terakhir diubah: 20 May 2026 01:41
URI: http://digilib.unila.ac.id/id/eprint/99597

Actions (login required)

Lihat Karya Akhir Lihat Karya Akhir