TY - THES ID - eprints63838 UR - http://digilib.unila.ac.id/63838/ A1 - SUCI RAHAYU IDAYATI , 1823031005 Y1 - 2022/06/09/ N2 - Upacara adat perkawinan masyarakat Lampung Saibatin dibagi menjadi dua yaitu Nayuh Balak dan Bedu?a dilamban. Nayuh Balak biasanya dilakukan oleh masyarakat yang memiliki gelar punyimbangan adat dan masyarakat yang tingkat ekonominya tinggi. Sedangkan bedu?a dilamban dilakukan oleh masyarakat yang tidak memiliki punyimbangan adat dan masyarakat yang tingkat ekonominya sedang dan rendah. Dalam pelaksanaan baik nayuh balak maupun bedu?a dilamban harus menggunakan tradisi Sedaduwaian. Keharusan melaksanakan tradisi ini dalam setiap perkawianan adalah Tidak terlepas dari menjaga kelestarian tradisi Sedaduwaian, juga penyampaian pesan moral dan etika bagi yang melaksanakan. Tradisi Sedaduwaian dalam perkawianan Adat Lampung Saibatin Marga Ngambur di Pekon Sukanegara tetap bertahan dan dilestarikan hingga sekarang. Disinilah peran generasi muda turut andil dalam pelestarian tradisi ini agar tidak punah tergerus zaman. Adapun tujuan dari tulisan ini adalah untuk mendeskripsikan setiap tahapan-tahapan dan nilai-nilai dari tradisi Sedaduwaian dalm perkawinan adat Lampung Saibatin. Data dikumpulkan melalui wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahapan-tahapan dalam tradisi Sedaduwaian ini tetap dilaksanakan dari khegah jak lamban, berjalan beriringan menuju anak sungai hingga melaksanakan sasikok, ngilik apui, menanam kumbang kebayan, hingga mencuci peralatan yang dipakai menenam kumbang kebayan tetap di laksanakan walaupun mengalami modefikasi atau perubahan terutama dari alat dan bahan yang digunakan dalam tradisi Sedaduwaian. Kata kunci: tradisi Sedaduwaian, Adat ulun Lampung Saibatin dalam perkawinan The traditional marriage ceremony of Lampung Saibatin society is divided into two, namely Nayuh Balak and Bedu'a dilamban. Nayuh Balak is commonly held by people who have the title of punyimbangan adat (traditional leader) and people with high economic level. However, bedua dilamban is held by people who do not have the title of punyimbangan adat (traditional leader) and people with medium and low economic level. In the marriage ceremony, both nayuh balak and bedua dilamban should organize tradition of Sedaduwaian. The obligation to hold this tradition in every marriage cannot be separated from preserving the Sedaduwaian tradition, as well as delivering moral and ethical messages for those who host it. The tradition of Sedaduwaian in the traditional marriage of the Lampung Saibatin Ngambur clan in Sukanegara village, Ngambur District, Pesisir Barat Regency has survived and been preserved until now. This is where the role of the young generation plays a role in preserving this tradition so that it will not be extinct due to the time. The purpose of this research is to describe every stage and value of the Sedaduwaian tradition in the traditional marriage of Lampung Saibatin. The data is collected through interview and observation. The result shows that the stages in the Sedaduwaian tradition are still held, from khegah jak lamban, walking together side by side toward the creek until doing sasikok, ngilik apui, planting kumbang kebayan, until washing the equipment used to plant kumbang kebayan is still done even though there is modification or change especially from the equipments and material used in the Sedaduwaian tradition. Keywords: Sedaduwaian tradition, tradition of Ulun Lampung Saibatin in marriage PB - UNIVERSITAS LAMPUNG M1 - masters TI - TRADISI SEDADUWAIAN DALAM PERKAWINAN ADAT LAMPUNG SAIBATIN MARGA NGAMBUR PEKON SUKANEGARA KECAMATAN NGAMBUR KABUPATEN PESISIR BARAT AV - restricted EP - 1823031005 ER -