TY - THES ID - eprints64799 UR - http://digilib.unila.ac.id/64799/ A1 - DELLA TIARA MONIK, 2020011018 Y1 - 2022/08/02/ N2 - Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kotaagung Utara memiliki luasan kurang lebih 56,02 ha yang terdiri dari 8,82% tutupan hutan dan 91,18% tutupan non-hutan. Kawasan ini memiliki keanekaragaman flora dan fauna endemik yang tinggi. Salah satu keistimewaan lokasi ini, yaitu keberadaan gajah Sumatera [Elephas maximus sumatranus (Temminck, 1847)]. Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) merupakan satwa langka yang termasuk kedalam daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN Redlist), dengan kategori kritis terancam punah (Critically endangered). Pada umumnya, habitat gajah Sumatera berada di hutan alam, namun keberadaan hutan alam di pulau Sumatera semakin menurun. Apabila kondisi hutan rusak, maka akan menyebabkan hilangnya sebagian habitat flora dan fauna langka, terutama gajah Sumatera. Hal tersebut juga mendorong terjadinya konflik antara gajah dan manusia, karena habitat alami gajah Sumatera kian terusik. Upaya untuk menekan terjadinya konflik antara gajah dengan manusia, yaitu mengubah stigma negatif masyarakat yang menganggap gajah sebagai hama. Upaya tersebut dilakukan untuk meningkatkan pelestarian habitat gajah, serta menjadikan kawasan tersebut menjadi kegiatan wisata, terutama wisata minat khusus (special interest tourism). Upaya pengembangan ini memerlukan suatu perencanaan yang komprehensif. Perencanaan wisata minat khusus merupakan rangkaian proses yang dilakukan pada kegiatan wisata, berdedikasi unik, dan memerlukan strategi yang matang. Pengamatan penggunaan lahan sangat penting untuk dipahami, karena mengacu pada tujuan dari fungsi lahan, seperti habitat satwa liar, perubahan dan perkembangan lahan, serta kenampakan fisik permukaan bumi. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis rute jalur pergerakan gajah Sumatera berdasarkan intensitas pergerakan gajah dan kondisi vegetasi, serta merancang strategi perencanaan objek wisata minat khusus di KPH Kotaagung Utara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif dan kuantitatif. Analisis tutupan lahan diolah dengan menggunakan menggunakan Earth Engine Computing, dengan tujuan untuk melihat nilai akurasi kerapatan lahan (NDVI), selanjutnya diregresikan dengan data keberadaan kawanan gajah dalam suatu area. Analisis selanjutnya, yaitu melakukan wawancara kepada wisatawan potensial, masyarakat, dan pengelola menggunakan metode purposive sampling. Penyusunan startegi perencanaan wisata minat khusus di KPH Kotaagung Utara menggunakan analisis SWOT, dengan cara memadukan hasil dari dua data tersebut. Hasil dari penelitian ini, yaitu intensitas pergerakan gajah di KPH Kotaagung Utara cendrung stabil. Area Pertanian Semak Belukar Campuran merupakan area yang paling disukai gajah, dengan total jejak sebesar 107 titik atau sekitar 90% dari seluruh areal yang ada di KPH Kotaagung Utara. Penetapan rute terbaik dalam perencanaan wisata minat khusus berada di KPH Kotaagung Utara berada pada Area I (Register 31) dan Area II (Register 39). Perhitungan regresi juga membuktikan bahwa terdapat hubungan nyata antara pengaruh Intensitas Vegetasi (NDVI) dan distribusi bulanan gajah terhadap pergerakan gajah (EAD) di KPH Kotaagung Utara. Hasil akhir strategi perencanaan dalam penelitian ini, yaitu Strength ? Opportunities (SO). Tindakan strategi yang diusulkan meliputi, kerjasama dengan beberapa pihak seperti pemerintah, LSM, akademisi, dan masyarakat untuk mengoptimalkan sarana dan prasarana, melakukan promosi mengenai wisata minat khusus, serta pendampingan kepada masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat disekitar KPH Kotaagung Utara dengan cara membuka usaha dan homestay. Kata Kunci: mitigasi konflik, penggunaan lahan, perencanaan wisata minat khusus, gajah Sumatera. Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kotaagung Utara is a region of approximately 56.02 ha, consisting of 8.82% forest cover and 91.18% non-forest cover. This area has a high diversity of endemic flora and fauna. One of the special features of this location is the presence of Sumatran elephants [Elephas maximus sumatranus (Temminck, 1847)]. The Sumatran elephant (Elephas maximus sumatranus) is a rare animal that is included in the red list of the International Union for Conservation of Nature (IUCN Redlist), with a critically endangered category. In general, the habitat of Sumatran elephants is in natural forests, but the presence of natural forests on the island of Sumatra is decreasing. If the condition of the forest is damaged, it will cause the loss of some habitat for rare flora and fauna, especially the Sumatran elephant. It also encourages conflicts between elephants and humans because the natural habitat of Sumatran elephants is increasingly disturbed. Efforts to suppress the occurrence of conflicts between elephants and humans, specifically changing the negative stigma of the community that considers elephants to be pests. These efforts are carried out to increase the conservation of elephant habitat, as well as to make the area a tourist activity, especially special interest tourism. This development effort requires a comprehensive plan. Special interest tourism planning is a series of processes carried out on tourism activities, uniquely dedicated and requires a mature strategy. Observation of land use is very important to understand because it refers to the purpose of the land function, such as wildlife habitat, land change and development, and the physical appearance of the earth's surface. Based on this study aims to analyze the route of the movement of the Sumatran elephant based on the intensity of the elephant's movement and the vegetation condition, as well as to design a planning strategy for special interest tourism objects in KPH Kotaagung Utara. This research method uses qualitative and quantitative methods; land cover analysis is processed using Earth Engine Computing to see the accuracy of land density (NDVI), then regressed with data on the presence of a herd of elephants in an area. The next analysis involves interviews with potential tourists, the community, and managers using the purposive sampling method. The formulation of a special interest tourism planning strategy in KPH Kotaagung Utara using a SWOT analysis was carried out by combining the results of the two data. The results of this study indicate that the intensity of elephant movement in KPH Kotaagung Utara tends to be stable. The Mixed Shrub Dryland Argiculture area is the most preferred for elephants, with a total footprint of 107 points or about 90% of the entire area in KPH Kotaagung Utara. Determination of the best routes in special interest tourism planning is in Area I (Register 31) and Area II (Register 39), KPH Kotaagung Utara, Tanggamus. Furthermore, the regression results prove that there is a significant relationship between the effect of vegetation intensity (NDVI) and monthly elephant distribution on Elephant Area Density (EAD) in KPH Kotaagung Utara. The results of the planning strategy in this study, namely Strength ? Opportunities (SO), with the proposed strategic actions, include collaboration with several parties such as the government, NGOs, academics, and the community to optimize facilities and infrastructure, promote special interest tourism, and to mentor to the community in improving the welfare of the community around the KPH Kotaagung Utara by opening businesses and homestays. Keywords: conflict mitigation, land use, special interest tourism, Sumatran Elephant. PB - UNIVERSITAS LAMPUNG M1 - masters TI - PERENCANAAN PENGEMBANGAN POTENSI WISATA MINAT KHUSUS PADA GAJAH SUMATERA (Elephas maximus sumatranus) DI KPH KOTAAGUNG UTARA AV - restricted EP - 2020011018 ER -