@misc{eprints69468, month = {Januari}, title = {KORELASI MODAL SOSIAL MASYARAKAT TERHADAP UPAYA PEMULIHAN EKOSISTEM GAMBUT DI SEKITAR TAHURA ORANG KAYO HITAM (STUDI KASUS: DESA JEBUS DAN GEDONG KARYA)}, author = {1914151056 Eka Ria Novita Sari Sirait}, address = {UNIVERSITAS LAMPUNG}, publisher = {FAKULTAS PERTANIAN }, year = {2023}, url = {http://digilib.unila.ac.id/69468/}, abstract = {ABSTRAK KORELASI MODAL SOSIAL MASYARAKAT TERHADAP UPAYA PEMULIHAN EKOSISTEM GAMBUT DI SEKITAR TAHURA ORANG KAYO HITAM (STUDI KASUS: DESA JEBUS DAN GEDONG KARYA) Oleh Eka Ria Novita Sari Sirait Saat ini telah terjadi penurunan kualitas ekosistem gambut yang salah satunya terjadi akibat kebakaran. Perlu dilakukan upaya pemulihan guna meningkatkan kualitas dan menjaga kelestarian ekosistem gambut dan sudah banyak pemanfaatan terkait aspek ekologinya. Banyak penelitian membuktikan bahwa masyarakat adalah salah satu bagian penting dalam pelestarian sumber daya alam dan ekosistem, termasuk dalam upaya pemulihan ekosistem gambut. Salah satu indikator yang belum banyak diteliti adalah modal sosial yang dimiliki oleh masyarakatsekitar lahan gambut. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dan menganalisis tingkatan modal sosial yang dimiliki oleh masyarakat sekitar Taman Hutan Raya Orang Kayo Hitam (Tahura OKH) serta menganalisis korelasi modal sosial tersebut dengan upaya pemulihan ekosistem gambut di sekitar Tahura OKH. Penelitian ini dilakukan pada Bulan September 2022 di Desa Jebus dan Desa Gedong Karya, kecamatan Kumpeh, Kabupaten Jambi, Provinsi Jambi. Pengumpulan data masyarakat dengan melakukan wawancara dan pengisian kuisioner oleh yang terpilih menjadi responden penelitian. Metode yang dilakukan menggunakan metode kombinasi kuantitatif dan kualitatif. Penentuan responden dilakukan dengan teknik purposive sampling. Pengambilan data kuisioner dilakukan dengan melakukan Focus Group Discussion (FGD). Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa masyarakat desa Jebus dan Gedong Karya memiliki nilai modal sosial yang tinggi. Modal sosial tersebut ternyata tidak berpengaruh secara signifikan terhadap upaya pemulihan. Nilai kepercayaan (sebagai salah satu unsur modal sosial) berkorelasi terhadap keinginan untuk dilakukannya pemulihan. Nilai kepercayaan terhadap sesama masyarakat desa, pemerintah, norma dan tokoh adat di dua desa tersebut sebenanrnya menjadi modal awal yang mendorong dan keinginan untukmelakukan pemulihan terhadap ekosistem gambut. Berdasarkan hasil analisis, nilai kepercayaan tersebut ternyata tidak berkorelasi terhadap partisipasi dan keikutsertaan masyarakat terhadap pemulihan gambut karena terbatasnya akses ke lokasi, pengetahuan serta kemampuan masyarakat terhadap pengelolaan dan pemulihan gambut. Akses terbatas karena adanya kebijakan yang ada tidak memperbolehkan masyarakat sekitar untuk mengelola lahan gambut di Tahura OKH yang merupakan suatu kawasan konservasi. Unsur norma dan jaringan sosial juga tidak berkorelasi baik terhadap keinginan dan keikutsertaan masyarakat untuk melakukan kegiatan pemulihan ekosistem gambut. Kata kunci: ekosistem gambut, modal sosial, kepercayaan, norma, jaringan sosial At present there has been a decline in the quality of the peat ecosystem, one of which is due to fires. Recovery efforts need to be made to improve the quality and maintain the sustainability of the peat ecosystem and there have been many uses related to its ecological aspects. Many studies have proven that the community is an important part of preserving natural resources and ecosystems, including efforts to restore peat ecosystems. One indicator that has not been widely studied is the social capital owned by communities around peatlands. Based on this, this research was conducted to determine and analyze the level of social capital owned by the community around Orang Kayo Hitam Forest Park (Tahura OKH) and to analyze the correlation of this social capital with efforts to restore peat ecosystems around Tahura OKH. This research was conducted in September 2022 in Jebus Village and Gedong Karya Village, Kumpeh sub-district, Jambi Regency, Jambi Province. Community data collection by conducting interviews and filling out questionnaires by those selected as research respondents. The method used is a combination of quantitative and qualitative methods. Respondents were determined using purposive sampling technique. Questionnaire data collection was carried out by conducting Focus Group Discussion (FGD). The results obtained show that the people of Jebus and Gedong Karya villages have a high social capital value. This social capital did not significantly influence recovery efforts. The value of trust (as an element of social capital) correlates with the desire for recovery. The value of trust in fellow village communities, the government, norms and traditional leaders in the two villages actually became the initial capital that encouraged and wanted to carry out restoration of the peat ecosystem. Based on the results of the analysis, the value of trust does not correlate with community participation in peat restoration due to limited accessto the location, knowledge and ability of the community in managing and restoring peat. Access is limited due to existing policies not allowing local communities to manage peat land in Tahura OKH which is a conservation area. Elements of norms and social networks also do not correlate well with the desire and participation of the community to carry out peat ecosystem restoration activities. Keywords: Peat ecosystem, social capital, trust, norms, social networks} }