|
Research Report dari
LAPTUNILAPP / 2008-01-21 11:03:38
MENANAMKAN IDEOLOGI LINGKUNGAN PADA MASYARAKAT DI KAWASAN PENYANGGA TAMAN NASIONAL WAY KAMBAS MENGGUNAKAN MEDIA HIBURAN KOMIK FABEL DAN CERGAM DALAM RANGKA PELESTARIAN KEANEKARAGAMAN HAYATI
|
|

|
 |
Oleh: Ida Nurhaida, Dra.M.Si
Lembaga Penelitian Dibuat: 2008-01-03 , dengan 1 file(s). |
Keywords: MEDIA HIBURAN,KEANEKARAGAMAN HAYATI,TAMAN NASIONAL WAY KAMBAS Subject: Masyarakat-aspek lingkungan
Call Number: 307 Nur m c.1
Abstrak
Kroniknya konflik manusia vs satwa liar (utamanya gajah dan harimau) di zona penyangga Taman Nasional Way Kambas (TNWK) merupakan muara (outcome) dari kemerosotan kesetimbangan ekologi di sana. Namun hubungan yang sifatnya abstrak itu umumnya sulit difahami oleh petani. Terlebih lagi untuk memahami hubungan konflik itu dengan persistennya kemerosotan hash panen maupun kemerosotan keanekaragaman hayati. Ini merupakan tantangan bagi para ahli komunikasi pembangunan untuk mengembangkan suatu strategi komunikasi yang tepat dikaitkan dengan persoalan ekonomi sebagai entry point dalam menanamkan ideologi lingkungan sebagai landasan utama mitigasi konflik secara hakiki. Untuk itu maka telah dilakukan penelitian ini dengan tujuan untuk: (i) menyingkap akar masalah utama dari konflik manusia vs satwa liar dan (ii) merancang strategi kampanye penanaman ideologi lingkungan dikaitkan dengan rencana pengembangan potensi ekonomi lokal untuk pemecahan masalah konflik dengan satwa liar.
Penelitian ini dilakukan mulai Juni sampai September 2007 meliputi survai lapang dan analisis di laboratorium. Pekerjaan lapang dilakukan di 4 desa yang banyak mengalami konflik yaitu Braja Luhur, Braja Asri, Rantau Jaya Udik, berturut-turut dominan dengan etnis Jawa, Sunda, Lampung dan Desa Braja Yekti yang merupakan campuran Jawa, Bali, dan Sunda. Telah dikumpulkan data demografi, data fisik dan sosial-ekonomi-budaya, termasuk pengetahuan lokal dari khalayak tentang ekologi dan konservasi Keragaman nayati. Data dipetik melalui wawancara dan FGD dengan masyakat (20-30 orang per desa/dusun). Wawancara juga dilakukan kepada beberapa staf TNWK dan WCS (World Conservation Society), tokoh formal (kepada desa/dusun) maupun tokoh informal yang ada.
Untuk mengukur kemampuan literasi khalayak terhadap media penyuluhan, telah dilakukan pengukuram readability mengadaptasi media yang telah dikembangkan oleh Nurhaida dick (2005). Selain itu dikumpulkan berupa hasil-hasil penelitian setempat yang relevan, dokumen perencanaan, monografi desa, dan terbitan lainnya lain seperti buletin dan brosur. Data diekstrak dan ditabulasi secara kualitatif maupun kuantitatif. Analisis terhadap akar utama masalah maupun perumusan skenario pemecahannya dilakukan di Laboratorium Multi Media Jurusan llmu Komunikasi Universitas Lampung dengan cara brainstorming, disikusi dan berdebat diantara tim peneliti. Simpulan yang dapat diambil dari penelitian tahun perianth ini adalah sebagai berikut: (i) Akar masalah utama konflik manusia vs satwa liar berasal dari: (a) tidak terintegrasinya kebijakan program penempatan transmigrasi dengan program pengembangan pelestarian keanekaragaman hanyati di wilayah ini pada masa lalu yang sekarang bermuara pada jalin-menjalinnya (ramification) antara masalah sosial-ekonomi-budaya masyarakat setempat dengan masalah kemerosotan keragaman hayati dan kesetimbangan ekologi yang terus memperburuk konflik itu, dan (b) rendahnya pengetahuan, tingginya mitosmitos dalam masyarakat (seperti empedu dan otak satwa untuk obat penyakit, culah badak untuk obat kuat, kumis macan untuk penahan dingin, gading gajah untuk kemakmuran), absennya kearifan lokal dalam menghadapi konflik, serta buruknya kinerja penyuluhan (akibat terbatas jumlah, frekuensi serta alat bantu penyuluhan) maka berujung pada gagalnya berbagai upaya mitigasi konflik yang pernah dilakukan di zona penyangga itu; dan (ii) Untuk mencapai penyelesaian secara menyeluruh maka perlu ditempuh 2 skenario penguatan mitigasi konflik, yaitu (a) perlu mendesain pola pertanian pada zona penyangga TNWK dengan mengukuhkan praktek wanatani (agroforestry) karet, coklat, atau kopi di bawah tegakan tanaman kayu dengan tanaman musiman berupa cabe (Capsicum annum), (b) perlu edukasi dan mengenalkan inovasi tentang penangkalan serangan gajah dengan penggunaan tali yang diolesi pasta cabe sebagai cara yang terbukti efektif di berbagai belahan dunia, yang merupakan cara yang paling mungkin dilakukan pleb masyarakat secara mandiri. Rekomendasi yang penting untuk dilakukan adalah: (i) Perlu dilakukan gerakan pelestarian keragaman hayati pada masyarakat zona penyangga TNWK yang mesti dipraktekkan sebagai bagian dari perkehidupan dan matapencahariannya sehari-hari petani, dan (ii) Perlu melakukan revitalisai program penyuluhan dengan mengintensifkan semua aset komunikasi yang tersedia, mengembangkan strategi yang tepat, menguatkan kelembagaan yang ada serta menyediakan alat bantu atau media penyuluhan yang handal, murah dan mempunyai durabiltas yang panjang seperti media cetak yang sangat potensial misalnya komik, cergam, fotonovela maupun fabel ataupun lainnya. (iii) perlu dilakukan upaya-upaya penguatan kelembagaan kepada semua stakeholder yang berkompeten terhadap kelestarian keanekaragaman hayati (utamanya di Propinsi Lampung) agar praktek-praktek tersebut segera dapat tertanam dan membudaya di masyarakat zona penyangga TNWK.
|