PENERAPAN ELECTRONIC GOVERNMENT DALAM PENGHITUNGAN SUARA HASIL PEMILIHAN KEPALA DAERAH (Analisis Actor Network Theory pada Implementasi Aplikasi Penghitungan Suara oleh Komisi Pemilihan Umum Kota Jambi dalam Pemilihan Walikota Jambi Tahun 2018)

MUHAMMAD IKHSAN, 1626021033 (2019) PENERAPAN ELECTRONIC GOVERNMENT DALAM PENGHITUNGAN SUARA HASIL PEMILIHAN KEPALA DAERAH (Analisis Actor Network Theory pada Implementasi Aplikasi Penghitungan Suara oleh Komisi Pemilihan Umum Kota Jambi dalam Pemilihan Walikota Jambi Tahun 2018). Masters thesis, Universitas Lampung.

[img]
Preview
Text
ABSTRAK.pdf

Download (90Kb) | Preview
[img] Text
TESIS FULL.pdf
Restricted to Registered users only

Download (2102Kb)
[img]
Preview
Text
TESIS TANPA BAB PEMBAHASAN.pdf

Download (2104Kb) | Preview

Abstrak

Penghitungan suara dalam suatu pemilihan umum adalah salah satu tahapan yang cukup krusial, termasuk dalam ajang pemilihan kepala daerah. Penelitian ini untuk mengkaji penerapan e-gov penghitungan suara dari sisi mekanisme dan prosesnya dengan menggunakan perspektif Actor-Network Theory. Perspektif ini menempatkan interaksi yang komprehensif antara aktor manusia maupun non-manusia. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Pengumpulan data primer menggunakan teknik wawancara mendalam dan observasi, sedangkan untuk data sekunder menggunakan teknik dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pertama penerapan penghitungan suara pada Pilkada Kota Jambi Tahun 2018 sudah dijalankan sesuai dengan tujuannya yaitu sebagai kontrol terhadap penyelenggara pemilu di tingkat bawah agar tidak melakukan kecurangan berupa manipulasi suara. Situng juga ditujukan sebagai wujud pelayanan kepada publik dalam hal publikasi informasi yang melibatkan gabungan aktor jaringan yaitu aktor manusia (brainware, operator, staf, komisioner) dan non-manusia (hardware, software, email, website). Kedua, implikasi penerapan situng terhadap kinerja KPU Kota Jambi dan tata kelola Pemilu menunjukkan gejala yang positif dimana penghitungan suara Pilkada menjadi lebih akurat, cepat dan mudah diakses publik dengan penggunaan teknologi informasi komunikasi memang menjadi kebutuhan saat ini yang bisa diterima oleh masyarakat. Berbagai pihak pemangku kepentingan mendukung penerapan situng yang memandangnya sebagai instrumen pendukung pemilu yang mesti dijamin pelembagaan dan keberlanjutannya. Penggunaan situng hanya sebagai alat bantu saja sehingga dengan demikian aktor non-manusia masih tetap di bawah kendali aktor manusia. Aktor utama yaitu seluruh jajaran penyelenggara pemilu yang harus selalu ditingkatkan profesionalitas serta kejujurannya, pada sisi lain situng bisa menjadi instrumen kontrolnya. Kata kunci: e-government, Situng, actor-network theory. ABSTRACT Vote counting in a general election is one of the crucial steps, including in the regional head election. This research to examine the application of e-gov vote counting in terms of mechanisms and processes using the perspective of Actor-Network Theory. This perspective places a comprehensive interaction between human and non-human actors. This study used descriptive qualitative method. Primary data collection uses in-depth interview techniques and observation, while for secondary data using documentation techniques. The results showed that the first application of vote counting in the Jambi City Election in 2018 had been carried out in accordance with the aim of controlling the election organizers at the lower level so as not to commit fraud in the form of vote manipulation. Situng is also intended as a form of service to the public in terms of publication of information involving a combination of network actors, namely human actors (brainware, operators, staff, commissioners) and non-humans (hardware, software, e-mail, website). Secondly, the implications of implementing the situng on the performance of the Jambi City KPU and Election governance show positive symptoms where Pilkada vote counting becomes more accurate, fast and easily accessible to the public with the use of communication information technology is indeed a current requirement that can be accepted by the public. Various stakeholders support the implementation of situng, which sees it as a supporting instrument for elections that must be guaranteed institutionalization and sustainability. The use of situng is only a tool so that non-human actors are still under the control of human actors. The main actor, namely the entire ranks of the election organizers, whose professionalism and honesty must always be improved, on the other hand, situng can be the instrument of control. Keywords: e-government, Situng, actor-network theory.

Tipe Karya Ilmiah: Tesis (Masters)
Subyek: J Political Science > J General legislative and executive papers
J Political Science > JS Local government Municipal government
Q Science (General) > QA Mathematics > QA76 Computer software
Program Studi: Fakultas ISIP > Prodi Magister Ilmu Pemerintahan
Depositing User: 188924276 . Digilib
Date Deposited: 11 Feb 2019 07:24
Last Modified: 11 Feb 2019 07:26
URI: http://digilib.unila.ac.id/id/eprint/55730

Actions (login required)

View Item View Item