HAMMAM MAHFUDH , (2026) ANALISIS KEPENTINGAN TIONGKOK DALAM TRANSFER TEKNOLOGI KERETA CEPAT FUXING HAO KE INDONESIA TAHUN 2015-2024. FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK, UNIVERSITAS LAMPUNG.
|
File PDF
1. ABSTRAK.pdf Download (1377Kb) | Preview |
|
|
File PDF
2. SKRIPSI FULL.pdf Restricted to Hanya staf Download (1709Kb) | Minta salinan |
||
|
File PDF
3. SKRIPSI TANPA PEMBAHASAN.pdf Download (1705Kb) | Preview |
Abstrak (Berisi Bastraknya saja, Judul dan Nama Tidak Boleh di Masukan)
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya proses transfer teknologi kereta cepat Fuxing Hao dari Tiongkok ke Indonesia melalui proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB). Kereta cepat merupakan teknologi transportasi rel berteknologi tinggi yang hanya dikuasai oleh sejumlah kecil negara di dunia. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses transfer teknologi kereta cepat Fuxing Hao ke Indonesia serta menganalisis kepentingan nasional Tiongkok yang melatarbelakangi transfer teknologi tersebut. Penelitian ini menggunakan konsep kepentingan nasional Frederick H. Hartmann yang membagi kepentingan negara ke dalam tiga kategori, yaitu core interest, secondary interest, dan general interest. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan konsep transfer teknologi yang dikemukakan oleh David J. Teece dan Gabriel Szulanski, yang memandang transfer teknologi sebagai proses yang meliputi tahap inisiasi, implementasi, absorbsi, dan inovasi. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif, metode studi pustaka, dan tipe analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tiongkok berhasil menjadi mitra pembangunan kereta cepat di Indonesia melalui tawaran transfer teknologi, skema pembiayaan business-to-business tanpa jaminan pemerintah, serta tanpa penggunaan APBN. Namun, dalam pelaksanaannya, KCJB mengalami pembengkakan biaya dan tantangan finansial yang menyebabkan keterlibatan negara melalui dukungan anggaran. Meskipun demikian, transfer teknologi yang dilakukan Tiongkok memungkinkan Indonesia memperoleh pengetahuan dan kemampuan untuk mengoperasikan serta memelihara kereta cepat secara mandiri. Penelitian ini juga menemukan bahwa transfer teknologi KCJB tidak hanya bertujuan mendukung pembangunan infrastruktur Indonesia, tetapi juga menjadi instrumen Tiongkok untuk mengatasi overkapasitas industri, memperkuat daya saing teknologi, meningkatkan citra dan pengaruh internasional, mendukung internasionalisasi Renminbi, serta membentuk lingkungan internasional yang mendukung kepentingan nasionalnya. Dengan demikian, transfer teknologi kereta cepat merupakan bagian dari strategi jangka panjang Tiongkok untuk memperkuat posisi ekonomi, teknologi, dan geopolitiknya di tingkat global. Kata Kunci: Indonesia, KCIC, KCJB, Kereta Cepat, Tiongkok This research was motivated by the transfer of Fuxing Hao high-speed rail technology from China to Indonesia through the Jakarta–Bandung High-Speed Railway (KCJB) project. High-speed rail is an advanced railway transportation technology mastered by only a limited number of countries worldwide. The study aims to describe the process of transferring Fuxing Hao high-speed rail technology to Indonesia and to analyze the Chinese national interests underlying this technology transfer. The research employs Frederick H. Hartmann’s concept of national interest, which categorizes state interests into core interests, secondary interests, and general interests. In addition, it adopts the technology transfer framework proposed by David J. Teece and Gabriel Szulanski, which views technology transfer as a process consisting of initiation, implementation, absorption, and innovation stages. Using a qualitative approach, library research methods, and descriptive analysis, the study finds that China succeeded in becoming Indonesia’s partner in the high-speed railway project through its offer of technology transfer, a business-to-business financing scheme without government guarantees, and the initial absence of state budget involvement. However, during implementation, the KCJB project experienced cost overruns and financial challenges that ultimately required government financial support. Despite these challenges, the technology transfer process enabled Indonesia to acquire the knowledge and capabilities necessary to operate and maintain the high-speed railway independently. Furthermore, the findings reveal that the KCJB technology transfer was not solely intended to support Indonesia’s infrastructure development but also served as an instrument for China to address industrial overcapacity, strengthen its technological competitiveness, enhance its international image and influence, support the internationalization of the Renminbi, and shape an international environment conducive to its national interests. Therefore, the transfer of high-speed rail technology can be understood as part of China’s long-term strategy to strengthen its economic, technological, and geopolitical position at the global level. Keywords: China, Indonesia, KCIC, High Speed Rail, KCJB
| Jenis Karya Akhir: | Skripsi |
|---|---|
| Subyek: | 300 Ilmu sosial > 320 Ilmu politik (politik dan pemerintahan) |
| Program Studi: | FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK (FISIP) > Prodi S1-Hubungan Internasional |
| Pengguna Deposit: | 2605716981 Digilib |
| Date Deposited: | 19 Jun 2026 07:51 |
| Terakhir diubah: | 19 Jun 2026 07:51 |
| URI: | http://digilib.unila.ac.id/id/eprint/101080 |
Actions (login required)
![]() |
Lihat Karya Akhir |
