TRADISI NGABEN DI DESA MATARAM UDIK (Studi Fenomenologi Anggota Keluarga Etnik Bali Di Desa Mataram Udik Kecamatan Bandar Mataram Kabupaten Lampung Tengah)

MADE DEWI PURNAMI , 1816031050 (2022) TRADISI NGABEN DI DESA MATARAM UDIK (Studi Fenomenologi Anggota Keluarga Etnik Bali Di Desa Mataram Udik Kecamatan Bandar Mataram Kabupaten Lampung Tengah). FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK, UNIVERSITAS LAMPUNG.

[img]
Preview
File PDF
ABSTRAK.pdf

Download (3550Kb) | Preview
[img] File PDF
SKRIPSI FULL.pdf
Restricted to Hanya staf

Download (3560Kb)
[img]
Preview
File PDF
SKRIPSI TANPA BAB PEMBAHASAN.pdf

Download (3552Kb) | Preview

Abstrak (Berisi Bastraknya saja, Judul dan Nama Tidak Boleh di Masukan)

Tradisi Ngaben merupakan salah satu upacara yang dilakukan oleh umat Hindu di Bali dan tergolong sebagai upacara Pitra Yadnya (upacara yang ditunjukkan kepada Leluhur). Dalam pelaksanaannya tradisi Ngaben cukup membutuhkan banyak dana dalam prosesnya hal inilah yang menimbulkan hambatan bagi pihak yang kondisi ekonomi keluarganya kurang, akibatnya tradisi Ngaben tertunda. Karena tertundanya ini maka dilaksanakan Mekingsan Geni atau juga Mekingsan Pertiwi. Mekingsan Geni yang artinya menitipkan jenazah di Api atau Dewa Brahma sedangkan Mekingsan Pertiwi artinya menitipkan sementara jenazah di Pertiwi atau dikubur di bumi. Yang setelah itu masyarakat akan menunggu adanya Ngaben massal yang dilaksanakan oleh desa. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan metode fenomenologi. Teknik pengumpuln dat dilakukan dengan cara observasi kelapangan, wawancara dengan informan dan dokumentasi hasil penelitian. Hasil penelitian didapatkan bahwa pengalaman etnik Bali terkait tradisi Ngaben di Desa Mataram Udik menghasilkan persepsi yang positif, karena informan dapat melaksanakan prosesi Ngaben massal setelah sempat terhambat karena faktor ekonomi. Informan yang terhambat melaksanakan Ngaben mereka melakukan prosesi Mekingsan Ring Geni yaitu sebuah bentuk upacara pembakaran jenazah dimana roh/arwah dititipkan sementara pada Dewa Brahma atau Dewa Api sebelum menjalani upacara selanjutnya yakni Ngaben Massal agar bisa menyatu dengan Ida Sang Hyang Widi Wasa/Tuhan YME. Makna yang diperoleh etnik Bali yaitu badan material atau jasad tidak lain hanyalah kombinasi 5 unsur material atau Panca Mahabhuta (tanah, air, Api, udara, dan eter). Api memiliki status khusus di antara Panca Mahabhuta sebagai yang termurni diantara yang paling murni maka Api digunakan untuk membebaskan badan fana kembali ke asalnya menjadi Panca Mahabhuta. Kata Kunci: Etnik Bali, Fenomenologi, Ngaben, Pengalaman. The traditional of Ngaben is one of the ceremonies performed by Hindus in Bali and is classified as a Pitra Yadnya ceremony (a ceremony shown to the ancestors). In its implementation, the Ngaben tradition requires quite a lot of funds in the process, this is what creates obstacles for those whose family's economic condition is less, as a result the Ngaben tradition is delayed. Because of this delay, Mekingsan Geni or Mekingsan Pertiwi was held. Mekingsan Geni which means leaving the body in fire or the god Brahma while Mekingsan Pertiwi means temporarily leaving the body in Pertiwi or buried on earth. After that, the community will wait for a mass Ngaben carried out by the village. This study uses qualitative research using phenomenological methods. The data collection technique was carried out by means of field observations, interviews with informants and documentation of research results. The results showed that the Balinese ethnic experience related to the Ngaben tradition in Mataram Udik Village resulted in a positive perception, because the informants were able to carry out the mass Ngaben procession after being hampered by economic factors. Informants who were hampered from carrying out their cremations carried out the Mekingsan Ring Geni procession, which is a form of cremation ceremony where the spirits/spirits are temporarily entrusted to Lord Brahma or the God of Fire before undergoing the next ceremony, namely Mass Ngaben so that they can unite with Ida Sang Hyang Widi Wasa/God Almighty. The meaning obtained by ethnic Balinese is that the material body or body is nothing but a combination of the 5 material elements or the Panca Mahabhuta (earth, water, fire, air, and ether). Fire has a special status among the Five Mahabhutas as the purest among the purest so it is used to liberate the mortal body back to its origin to become the Five Mahabhuta. Key words: Balinese, Experience, Ngaben, Phenomenological

Jenis Karya Akhir: Skripsi
Subyek: 300 Ilmu sosial > 380 Perdagangan, komunikasi, dan transportasi
Program Studi: Fakultas ISIP > Prodi Ilmu Komunikasi
Pengguna Deposit: 2203767360 . Digilib
Date Deposited: 03 Jun 2022 07:38
Terakhir diubah: 03 Jun 2022 07:38
URI: http://digilib.unila.ac.id/id/eprint/62534

Actions (login required)

Lihat Karya Akhir Lihat Karya Akhir