SHINTA , ADELIA SUKMA (2025) PENANGANAN KASUS CHILD SOLDIER OLEH UNITED NATIONS MISSION IN SOUTH SUDAN (UNMISS) DALAM KONFLIK DI SUDAN SELATAN (2013-2022). FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK, UNIVERSITAS LAMPUNG.
|
File PDF
1. ABSTRAK.pdf Download (1714Kb) | Preview |
|
|
File PDF
2. SKRIPSI FULL.pdf Restricted to Hanya staf Download (2840Kb) | Minta salinan |
||
|
File PDF
3. SKRIPSI TANPA PEMBAHASAN.pdf Download (2725Kb) | Preview |
Abstrak (Berisi Bastraknya saja, Judul dan Nama Tidak Boleh di Masukan)
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perekrutan dan pelibatan anak-anak sebagai child soldier oleh pihak-pihak yang berkonflik di Sudan Selatan, yang melanggar hukum humaniter internasional serta berbagai perjanjian internasional mengenai perlindungan anak. Kondisi ini tidak hanya mengancam masa depan generasi muda Sudan Selatan, tetapi juga memperburuk siklus kekerasan yang berkepanjangan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penanganan child soldier oleh UNMISS dalam konflik di Sudan Selatan tahun 2013-2022. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori organisasi internasional oleh Rolker Rittberger, Bernhard Zangl dan Andreas Kruck yang memandang organisasi internasional tidak hanya sebagai aktor independen, tetapi juga sebagai instrumen bagi negara-negara anggotanya maupun pihak-pihak terkait. Penelitian ini menggunakan pendekatan kelembagaan (institutional approach) dengan menitikberatkan pada peran organisasi internasional dalam menjaga perdamaian dan keamanan internasional. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa UNMISS menjalankan tiga fungsi utama dalam kerangka teori organisasi internasional. Pertama, sebagai instrumen, UNMISS sering dimanfaatkan oleh aktor domestik maupun internasional. SPLA dan SPLM-Oposisi menggunakan kerja sama simbolik dengan UNMISS untuk membangun citra kooperatif di mata komunitas internasional, meskipun masih melakukan praktik perekrutan anak. Kedua, sebagai arena, UNMISS berfungsi sebagai forum yang memfasilitasi dialog, advokasi, dan koordinasi antara aktor lokal, regional, dan internasional. Terakhir, sebagai aktor independen, UNMISS memiliki legitimasi formal dari Dewan Keamanan PBB melalui mandat perlindungan warga sipil dan anak-anak. Namun, implementasi mandat tersebut menghadapi berbagai keterbatasan. UNMISS sering bergantung pada izin pemerintah Sudan Selatan, menghadapi pembatasan pergerakan darat maupun udara, serta kekurangan dukungan politik dan material dari Dewan Keamanan PBB. Hambatan ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kewenangan formal UNMISS dan realitas operasional di lapangan, sehingga membatasi efektivitasnya dalam melindungi warga sipil di Sudan Selatan. Kata kunci: child soldier, UNMISS, intrumen, arena, aktor independen This research was motivated by the recruitment and involvement of children as child soldiers by the conflicting parties in South Sudan, which violates international humanitarian law and various international agreements on child protection. This situation not only threatens the future of South Sudan's young generation but also exacerbates a prolonged cycle of violence. This study aims to describe the handling of child soldier by UNMISS in the conflict in South Sudan 2013-2022. The theory used in this study is the theory of international organizations by Rolker Rittberger, Bernhard Zangl, and Andreas Kruck, which views international organizations not only as independent actors but also as instruments for their member states and related parties. This study uses an institutional approach (institutional approach) with an emphasis on the role of international organizations in maintaining international peace and security. The results of this study indicate that UNMISS performs three main functions within the framework of international organization theory. First, as an instrument, UNMISS is often exploited by both domestic and international actors. The SPLA and SPLM-Opposition use symbolic cooperation with UNMISS to build a cooperative image in the eyes of the international community, despite continuing to engage in child recruitment practices. Second, as an arena, UNMISS serves as a forum that facilitates dialogue, advocacy, and coordination between local, regional, and international actors. Finally, as an independent actor, UNMISS enjoys formal legitimacy from the UN Security Council through its mandate to protect civilians and children. However, the implementation of this mandate faces various limitations. UNMISS often relies on permission from the South Sudanese government, faces restrictions on land and air movement, and lacks political and material support from the UN Security Council. These obstacles indicate a gap between UNMISS's formal authority and operational realities on the ground, thus limiting its effectiveness in protecting civilians in South Sudan. Keywords: child soldier, UNMISS, instrument, arena, independent actor
| Jenis Karya Akhir: | Skripsi |
|---|---|
| Subyek: | 300 Ilmu sosial > 320 Ilmu politik (politik dan pemerintahan) |
| Program Studi: | FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK (FISIP) > Prodi S1-Hubungan Internasional |
| Pengguna Deposit: | 2507745728 Digilib |
| Date Deposited: | 30 Dec 2025 02:13 |
| Terakhir diubah: | 30 Dec 2025 02:13 |
| URI: | http://digilib.unila.ac.id/id/eprint/94672 |
Actions (login required)
![]() |
Lihat Karya Akhir |
