Alliza , Azzahra (2025) HAMBATAN DAN PELUANG KERJASAMA SISTER CITY KOTA BANDUNG DENGAN KAWASAKI JEPANG TAHUN 2017-2020. FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK , UNIVERSITAS LAMPUNG.
|
File PDF
ABSTRAK.pdf Download (147Kb) | Preview |
|
|
File PDF
SKRIPSI FULL TANPA LAMPIRAN.pdf Restricted to Hanya staf Download (1044Kb) | Minta salinan |
||
|
File PDF
SKRIPSI FULL TANPA PEMBAHASAN.pdf Download (875Kb) | Preview |
Abstrak (Berisi Bastraknya saja, Judul dan Nama Tidak Boleh di Masukan)
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya kesenjangan antara komitmen kerja sama Sister City Kota Bandung dan Kota Kawasaki Jepang dengan realitas implementasinya pada periode 2017– 2020. Meskipun kedua kota telah menandatangani MoU dan menegaskan fokus pada pengelolaan lingkungan, khususnya pengelolaan sampah, berbagai hambatan menyebabkan kerja sama tidak berjalan optimal. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hambatan serta peluang yang muncul dalam kerja sama Sister City Bandung– Kawasaki, sekaligus mengidentifikasi peran pemerintah daerah dalam mendukung efektivitas kemitraan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur (library research) yang bersumber dari jurnal ilmiah, laporan resmi pemerintah, dokumen kebijakan, portal berita, serta penelitian terdahulu yang relevan. Analisis dilakukan menggunakan teori kerja sama internasional dan konsep paradiplomasi, serta diperdalam dengan analisis SWOT untuk memetakan kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dalam pelaksanaan program. Teknik analisis data mengikuti tahapan Miles dan Huberman, yakni kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerja sama Sister City Bandung–Kawasaki memiliki kekuatan berupa komitmen pemerintah daerah, dukungan kebijakan nasional, serta pengalaman teknis Kota Kawasaki dalam pengelolaan lingkungan. Peluang juga terbuka melalui transfer teknologi, peningkatan kapasitas SDM, perluasan jejaring internasional, hingga potensi pendanaan dari lembaga seperti JICA. Namun demikian, kerja sama menghadapi berbagai hambatan, termasuk keterbatasan anggaran, minimnya SDM kompeten, perbedaan budaya dan bahasa, koordinasi lintas instansi yang belum optimal, serta kendala eksternal seperti pandemi COVID-19. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberlanjutan kerja sama membutuhkan penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas aparatur, dan strategi kolaboratif yang lebih terstruktur di masa mendatang. Kata kunci: Sister City, Bandung–Kawasaki, paradiplomasi, SWOT, kerja sama internasional, pengelolaan lingkungan This study was motivated by the gap between the commitment of the Sister City cooperation between Bandung City and Kawasaki City, Japan, and the reality of its implementation during the 2017–2020 period. Although both cities signed an MoU and emphasized environmental management, especially waste management, various obstacles caused the cooperation not to run optimally. Based on this condition, this study aimed to analyze the obstacles and opportunities in the Bandung–Kawasaki Sister City cooperation and to identify the role of local governments in supporting the effectiveness of the partnership. This study used a qualitative approach with a literature review method based on academic journals, official government reports, policy documents, news portals, and relevant previous studies. The analysis used international cooperation theory and the concept of paradiplomacy and was strengthened by a SWOT analysis to map strengths, weaknesses, opportunities, and threats in program implementation. The data analysis followed the stages proposed by Miles and Huberman, namely data condensation, data display, and conclusion drawing. The results showed that the Bandung–Kawasaki Sister City cooperation had strengths in the form of local government commitment, national policy support, and Kawasaki City’s technical experience in environmental management. Opportunities also emerged through technology transfer, human resource capacity building, international networking expansion, and potential funding from institutions such as JICA. However, the cooperation faced various obstacles, including budget limitations, a lack of competent human resources, cultural and language differences, suboptimal inter-agency coordination, and external challenges such as the COVID-19 pandemic. This study concluded that the sustainability of the cooperation required institutional strengthening, improved capacity of government officials, and more structured collaborative strategies in the future. Keywords: Sister City, Bandung–Kawasaki cooperation, paradiplomacy, SWOT analysis, international cooperation, environmental management.
| Jenis Karya Akhir: | Skripsi |
|---|---|
| Subyek: | 300 Ilmu sosial > 320 Ilmu politik (politik dan pemerintahan) > 322 Hubungan negara dengan kelompok terorganisir dan anggotanya |
| Program Studi: | FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK (FISIP) > Prodi S1-Hubungan Internasional |
| Pengguna Deposit: | 2507771825 Digilib |
| Date Deposited: | 04 Feb 2026 03:44 |
| Terakhir diubah: | 04 Feb 2026 03:44 |
| URI: | http://digilib.unila.ac.id/id/eprint/95623 |
Actions (login required)
![]() |
Lihat Karya Akhir |
