TINJAUAN HISTORIS TERHADAP KOLONISASI DI DESA WONOSOBO, LAMPUNG TAHUN 1921-1927

NOVITRI, SHEILA (2026) TINJAUAN HISTORIS TERHADAP KOLONISASI DI DESA WONOSOBO, LAMPUNG TAHUN 1921-1927. FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN, UNIVERSITAS LAMPUNG.

[img]
Preview
File PDF
ABSTRAK.pdf

Download (12Kb) | Preview
[img] File PDF
SKRIPSI FULL.pdf
Restricted to Hanya staf

Download (1624Kb) | Minta salinan
[img]
Preview
File PDF
SKRIPSI FULL TANPA BAB PEMBAHASAN.pdf

Download (1051Kb) | Preview

Abstrak (Berisi Bastraknya saja, Judul dan Nama Tidak Boleh di Masukan)

Kolonisasi di Desa Wonosobo, Lampung pada tahun 1921-1927 merupakan bagian dari kebijakan Politik Etis yang bertujuan mengurangi kepadatan penduduk Jawa serta membuka lahan pertanian di wilayah yang masih jarang penduduknya. Pelaksanaannya lebih diarahkan pada kepentingan ekonomi kolonial melalui penyediaan tenaga kerja bagi perkebunan dan pengembangan komoditas ekspor. Penelitian ini bertujuan menganalisis secara rinci proses kolonisasi yang berlangsung di Desa Wonosobo tahun 1921-1927. Penelitian ini menggunakan metode historis dengan tahapan heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Pengumpulan data dilakukan melalui tahap heuristik dengan mengumpulkan sumber berupa arsip kolonial, literature pendukung, serta wawancara dengan masyarakan lokal sebagai sumber lisan. Analisis data dilakukan dengan pendekatan kualitatif menggunakan teori push-pull, untuk menjelaskan faktor pendorong dari Jawa dan faktor penarik di Lampung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses kolonisasi berlangsung secara bertahap dan mengalami dinamika dari tahun ke tahun. Pada tahun 1921 pemerintah membuka wilayah Teluk Semangka dan menempatkan 109 kepala keluarga asal Wonosobo, Jawa Tengah, di kawasan yang masih berupa hutan dan rawa. Tahun 1922 jumlah kolonis bertambah, namun kebijakan penghematan anggaran melemahkan pengawasan dan dukungan administratif. Pada 1923 bantuan modal dipangkas dan pengiriman kolonis dihentikan, sehingga produktivitas rendah dan ketergantungan pada kredit The Lampongsche Volksbank meningkat. Tahun 1924 kolonis mulai diwajibkan membayar cicilan, tetapi banyak yang tidak mampu akibat hasil panen yang belum stabil dan kondisi kesehatan yang buruk. Tahun 1925-1926 krisis semakin memburuk karena lemahnya tata kelola kredit dan meningkatnya tunggakan utang. Puncaknya pada 1927 bank mengalami kebangkrutan dan program kolonisasi dihentikan. Meskipun secara administratif dinilai gagal, kolonisasi ini membentuk permukiman permanen dan struktur sosial baru di Wonosobo. Dengan demikian, kolonisasi di Desa Wonosobo merupakan proses kompleks yang mencerminkan tujuan politik-ekonomi kolonial sekaligus membentuk dinamika masyarakat lokal. Kata Kunci: Kolonisasi, Wonosobo, Migrasi Jawa, Lampung Colonization in Wonosobo Village, Lampung, from 1921 to 1927 was part of the Ethical Policy, which aimed to reduce Javanese population density and open up agricultural land in sparsely populated areas. Its implementation was primarily geared toward colonial economic interests through the provision of labor for plantations and the development of export commodities. This study aims to analyze in detail the colonization process that took place in Wonosobo Village from 1921 to 1927. It employs a historical method with heuristic, critical, interpretive, and historiographic stages. Data collection was conducted through the heuristic stage, comprising sources in the form of colonial archives, supporting literature, and interviews with local residents as oral sources. Data analysis was conducted using a qualitative approach using push-pull theory to explain the push factors from Java and the pull factors in Lampung. The results show that the colonization process occurred gradually and experienced dynamics over the years. In 1921, the government opened the Semangka Bay area and settled 109 families from Wonosobo, Central Java, in an area that was still forested and swampy. In 1922, the number of colonists increased, but austerity policies weakened oversight and administrative support. In 1923, capital assistance was cut and colonist shipments were stopped, resulting in low productivity and increased dependence on credit from the Lampongsche Volksbank. In 1924, colonists began to be required to make installment payments, but many were unable to do so due to unstable harvests and poor health. From 1925 to 1926, the crisis worsened due to weak credit management and mounting debt arrears. This culminated in the bank's bankruptcy in 1927, and the colonization program was halted. Although administratively deemed a failure, this colonization established a permanent settlement and a new social structure in Wonosobo. Thus, colonization in Wonosobo Village was a complex process that reflected colonial political-economic goals while simultaneously shaping the dynamics of local society. Keywords: Colonization, Wonosobo, Javanese Migration, Lampung

Jenis Karya Akhir: Skripsi
Subyek: 300 Ilmu sosial > 370 Pendidikan
300 Ilmu sosial > 370 Pendidikan > 373 Pendidikan menengah; sekolah tingkat lanjutan
900 Sejarah dan Geografi > 909 Sejarah dunia
Program Studi: FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (FKIP) > Prodi S1 Pendidikan Sejarah IPS
Pengguna Deposit: 2602093764 Digilib
Date Deposited: 06 Mar 2026 08:08
Terakhir diubah: 06 Mar 2026 08:08
URI: http://digilib.unila.ac.id/id/eprint/97463

Actions (login required)

Lihat Karya Akhir Lihat Karya Akhir