USWATUN , NURDINIYAH (2025) EKSISTENSI PEREMPUAN DALAM NOVEL LEBIH SENYAP DARI BISIKAN KARYA ANDINA DWIFATMA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SMA. FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN , UNIVERSITAS LAMPUNG.
|
File PDF
ABSTRAK.pdf Download (296Kb) | Preview |
|
|
File PDF
SKRIPSI FULL.pdf Restricted to Hanya staf Download (1614Kb) | Minta salinan |
||
|
File PDF
SKRIPSI TANPA BAB PEMBAHASAN.pdf Download (1480Kb) | Preview |
Abstrak (Berisi Bastraknya saja, Judul dan Nama Tidak Boleh di Masukan)
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk eksistensi perempuan yang meliputi bekerja, menjadi pelaku transformasi sosial, menolak subordinasi, dan menjadi seorang intelektual dalam novel Lebih Senyap dari Bisikan karya Andina Dwifatma, serta implikasinya terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA. Rumusan masalah penelitian ini mencakup bagaimana bentuk eksistensi perempuan seperti bekerja, menjadi pelaku transformasi sosial, menolak subordinasi, dan menjadi seorang intelektual yang terdapat dalam novel dan bagaimana bentuk eksistensi tersebut dapat diintegrasikan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, khususnya pada materi Mengenali Istilah dari Fenomena Sosial sesuai dengan Kurikulum Merdeka. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan strategi analisis kutipan teks. Data penelitian berupa kutipan-kutipan dalam novel yang mengandung eksistensi perempuan. Sumber data dalam penelitian ini ialah novel Lebih Senyap dari Bisikan karya Andina Dwifatma. Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan ialah teknik baca catat yang diklasifikasikan sesuai dengan teori feminisme Beaviour dan dianalisis menggunakan perspektif feminisme eksistensialis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel ini memuat empat bentuk eksistensi perempuan. Eksistensi Bekerja tampak melalui tokoh perempuan yang digambarkan aktif bekerja sebagai penerjemah, promotor merek, distributor toko daring, dan penulis konten. Eksistensi Menjadi Pelaku Transformasi Sosial terlihat pada peran tokoh perempuan yang mandiri sejak dini dan memiliki keyakinan serta tekad yang kuat untuk keluar dari persoalan yang dihadapi. Menolak Subordinasi tercermin pada sikap tokoh perempuan yang berusaha mewujudkan keberadaan dirinya di lingkungan sosialnya. Eksistensi Menjadi Seorang Intelektual tercermin pada tokoh perempuan yang menempuh pendidikan dasar hingga perguruan tinggi, membaca dan mengoleksi buku, melakukan penelitian, serta memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Bentuk-bentuk eksistensi tersebut sejalan dengan permasalahan perempuan dalam latar belakang penelitian tentang perlunya keadilan dan kesetaraan peluang dalam hal akses, pekerjaan, keterlibatan, dan pengakuan terhadap tokoh perempuan di ranah intelektual.Implikasi penelitian menunjukkan bahwa bentuk eksistensi perempuan dalam novel ini mendukung materi pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA, khususnya materi Mengenali Istilah dari Fenomena Sosial. Kehadiran eksistensi perempuan dalam novel ini memberikan contoh konkret mengenai bagaimana bentuk-bentuk eksistensi perempuan ditampilkan melalui tokoh, konflik, dan alur cerita, sehingga novel tersebut dapat dimanfaatkan sebagai media tambahan pada pembelajaran yang relevan dan kontekstual. Melalui pemanfaatan novel ini, peserta didik tidak hanya mampu memahami bentuk eksistensi perempuan, tetapi juga dapat mengembangkan kemampuan refleksi dan keterampilan menghubungkan isi teks sastra dengan realitas sosial di sekitarnya. Integrasi eksistensi perempuan dalam proses pembelajaran tersebut sekaligus mendukung penguatan karakter peserta didik dan sejalan dengan Profil Pelajar Pancasila, terutama pada dimensi mandiri, bernalar kritis, dan kreatif. Kata kunci: eksistensi perempuan, feminisme, pembelajaran bahasa Indonesia. This study aims to describe the forms of women’s existence including working, acting as agents of social transformation, rejecting subordination, and becoming intellectuals in Andina Dwifatma’s novel Lebih Senyap dari Bisikan, as well as their implications for Indonesian language learning in high school. The research questions include how forms of women’s existence such as working, acting as agents of social transformation, rejecting subordination, and becoming intellectuals are portrayed in the novel, and how these forms of existence can be integrated into Indonesian language learning, particularly in the Recognizing Terms from Social Phenomena module in accordance with the Merdeka Curriculum. This study employs a qualitative descriptive method using a text quotation analysis strategy. The research data consists of quotations from the novel that contain representations of women’s existence. The data source for this study is the novel Lebih Senyap dari Bisikan by Andina Dwifatma. The data collection technique employed was the read and record method, classified according to Beaviour’s feminist theory and analyzed using an existentialist feminist perspective. The research findings indicate that this novel portrays four forms of female existence. The Working existence is evident through female characters depicted as actively working as translators, brand promoters, online store distributors, and content writers. The Agent of Social Transformation existence is seen in the roles of female characters who are independent from an early age and possess strong conviction and determination to overcome the challenges they face. Rejecting Subordination is reflected in the attitudes of female characters who strive to assert their presence within their social environments. Existence as an Intellectual is reflected in female characters who pursue education from elementary school through college, read and collect books, conduct research, and possess a high level of curiosity. These forms of existence align with the issues faced by women in the research context regarding the need for justice and equal opportunities in terms of access, employment, participation, and recognition of female characters in the intellectual sphere. The research implications indicate that the forms of female existence in this novel support Indonesian language learning materials in high school, particularly the topic of Identifying Terms from Social Phenomena. The portrayal of women’s existence in this novel provides concrete examples of how various forms of women’s existence are depicted through characters, conflicts, and plotlines, making the novel a valuable supplementary resource for relevant and contextual learning. Through the use of this novel, students will not only be able to understand the forms of women’s existence but also develop reflective abilities and the skill to connect literary texts with the social realities around them. The integration of women’s existence into the learning process simultaneously supports the strengthening of students’ character and aligns with the Pancasila Student Profile, particularly in the dimensions of independence, critical thinking, and creativity. Keyword: women existence, feminism, Indonesian language learning.
| Jenis Karya Akhir: | Skripsi |
|---|---|
| Subyek: | 300 Ilmu sosial > 370 Pendidikan 400 Bahasa |
| Program Studi: | FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (FKIP) > Prodi S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia |
| Pengguna Deposit: | 2602095229 Digilib |
| Date Deposited: | 28 Apr 2026 02:23 |
| Terakhir diubah: | 28 Apr 2026 02:23 |
| URI: | http://digilib.unila.ac.id/id/eprint/98721 |
Actions (login required)
![]() |
Lihat Karya Akhir |
